Sinopsis JMovie Taiyou no Uta Part 5


Sinopsis Taiyou no Uta Part 5


Kaoru terus berlari terengah-engah. Ia berhenti sejenak, nafasnya memburu cepat. Dari belakang rupanya Kouji menyusul Kaoru. Aih, langit sudah mulai terang.
“Naik!” perintah Kouji. Kouji mempercepat motornya menyusuri jalanan pagi yang sepi.
Mereka sampai di tempat tinggal Kaoru. Tapi rumahnya masih di atas. Kaoru bergegas turun dan langung menaiki tangga, “Tunggu, gitarmu!” Kouji mengingatkan. Kaoru tidak menggubrisnya dan tetap berlari. Ia bekerjaran dengan waktu, lebih tepatnya dengan kedatangan matahari. Untungnya ia berhasil sampai di rumah, tepat saat matahari muncul sempurna di kaki langit, menyapa bumi.




“Tunggu!” Kouji datang membawa gitar di saat Kaoru menutup pintu. Kaoru yang berada di balik pintu tetap memegang kenop pintu sampai Kouji pergi. Ia pun terduduk lemas, menangis. Kouji bingung dengan apa yang terjadi.


Ketika Kouji berniat pulang, ia melihat Misaki yang langsung menggeletakkan sepeda, menginvestigasinya. “Apakah dia bersamamu?”
“Ya, aku baru saja mengantarnya pulang.” Jawab Kouji santai.
“Baru saja?” Misaki mengulangnya dengan nada tinggi.



Ia segera melihat matahari yang tengah menyinari kota. Terang. Ia cemas sekali. Tak berapa lama, dari ujung jalan tampak Ayah dan Ibu yang terengah mencari Kaoru. “Paman, Bibi, Kaoru kembali!” teriak Misaki.
Mereka bergegas masuk ke dalam rumah. Begitu pula dengan Misaki. Namun Misaki ditahan Kouji, “Apa yang terjadi?”


Misaki menampar Kouji. Kouji tidak terima, “Apa yang kau lakukan?”
“Apa kau ingin membunuhnya?” tanya Misaki penuh amarah. Kouji heran. Misaki bertanya lagi, “Bagaimana kalau dia mati?”
“Mati? Apa maksudmu?” Kouji tidak mengerti.
“Dia sakit! Dia bisa mati jika terpapar sinar matahari!”
“Ha?”
(sinopsis mbak dewi berakhir di sini ^^)


Ayah dan Ibu membawa Kaoru ke rumah sakit. Ibu menyelimutinya di mobil.

Di kamar periksa, “Apakah ini sejak waktu itu?” tanya Dokter yang memegangi tangan Kaoru. Ada bercak merah kecil di tangannya.
“Ya,” jawab Ayah.
“Dia akan baik-baik saja.” Dokter menenangkan.
“Dia akan baik-baik saja kan, dok?” Ayah sangat khawatir.
“Dengan intensitas itu, seharusnya tidak ada masalah.”
“Ah senang mendengarnya!” Ibu mendesah lega.
“Seharusnya tidak ada efek di wajah dan tubuhmu.” Kaoru mengangguk. “Jika ada, beritahu aku secepatnya.” kata Dokter. Kaoru setuju. “Dia tidak apa-apa.”

Dalam perjalanan pulang, suasanana mobil hening. Hari sudah malam, lampu-lampu jalan bersinar indah. Kaoru membuka suara, “Apa?”
“Jangan katakan ‘apa’ padaku! Siapa laki-laki itu? Kamu tidak menceritakan apapun tentang dirinya.” kata Ayah.
“Aku merasa tidak perlu menceritakannya.”
“Kau…”
Ibu menyela, “Apa dia orang yang kau sukai?”
Kaoru menghindari tatapan Ibu. Ayah melihatnya dari spion. “Apa benar dia?” tanya Ibu lagi. Karena Kaoru tidak menjawab, Ayah mengulanginya.
“Apakah itu salah?” Keadaan kembali sepi, “Tetapi itu sudah berlalu. Meskipun aku berpikir tidak ada yang bisa kulakukan dengan penyakitku, pada akhirnya tidak mungkin aku menyukai seseorang. Jangan khawatir. Kami tidak akan bertemu lagi. Laki-laki tidak akan menyukai perempuan yang sakit sepertiku.”
“Jangan berkata seperti itu.” Kata Ibu.
“Itu bukan karena penyakit. Itu karena kepribadianmu.” Ayah turut menjelaskan.
“Dia masih punya masa depan.”
“Kau juga punya, Kaoru.” Ayah tak mau kalah mendengar keputusasaan putrinya.
“Benarkah begitu?”
“Ya, kau punya. “Ayah mantap dengan jawabannya. Akan ada hari esok untuk Kaoru. Selalu.^^
“Semua kata-kata indah itu lagi.” Kaoru tidak percaya. T.T
“Tentang apa?”
“Bukankah, aku tidak akan bisa sembuh?”
“Bukan seperti itu.” Ayah membantah.
“Kalau begitu tatap mataku dan katakan!” Kaoru menoleh pada Ayah yang sedang mengemudi. Ayah tak menjawab.


Di tempat lain, Kouji sedang membaca sambil berbaring. Ia tampak tidak percaya. Lalu, ia pergi ke tempat di mana Kaoru biasa bernyanyi. Kaoru tidak ada. Kaoru rupanya di tempat tidur.


Tapi ada bunyi bel menariknya turun. “Siapa?”
“Ini aku. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kouji dari balik pintu. “Ada apa? Apakah kau tidak akan menyanyi lagi?” Kouji terus bertanya walau tidak ada jawaban. “Nyanyianmu sangat bagus. Jika kau tidak menyanyi sekarang, kau tidak akan pernah menyanyi lagi. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”
“Aku…” akhirnya Kaoru menimpali. “Aku akan senang jika aku dapat menjalani kehidupan yang biasa. Jangan datang lagi!” Kaoru menunduk, “Jika kau masih berhubungan denganku, tidak akan ada hal baik yang terjadi.” Ia kembali naik ke kamarnya.
Kouji yang merasa ditinggalkan berkata, “Tunggu sebentar!”
Hem, tunggu sebentar ya! :) Next : SinopsisTaiyou no Uta Part 6

Comments

  1. sipp...di part yang ini, air mata gue meleleh...thanks..hiks!

    ReplyDelete

Post a Comment

thank you very much for your comment. :)
Hope you can come back!!!