Sinopsis JMovie Taiyou no Uta Part 6

Sinopsis Taiyou  no Uta Part 6








Hari berlalu. Kouji tengah duduk memeluk lututnya di tepi pantai. Menunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Debur pantai terdengar jelas, menjilat-jilat tepinya, menemani Kouji.
Di sebuah toko barang bekas mungkin ya hehe banyak banget barangnya, “Permisi!”
“Hai!” kata seorang lelaki yang muncul dari balik tumpukan barang-barang. “Oh, papan seluncur ya?” katanya sambil memperhatikan papan seluncur yang dibawa Kouji.
“Ya.”
“Jika aku mengambilnya, aku akan membayar 2000 yen.”
Kouji mengangguk, menyetujuinya.



Di rumah, Kaoru juga termenung. Ia tidak makan. “Kalian lanjutkan saja makannya.” Kaoru bernjak pergi.
“Kau tidak mau lagi?” Tanya Ayah khawatir.
Kaoru memandang sendu (cielah bahasanya) tempat pemberhentian bus seperti biasanya. Tapi tidak ada siapapun. Ia lalu berbaring di atas bangku panjang di dekat jendela.



Di pelabuhan, Kouji sedang membersihkan sebuah kapal mengenakan seragam berwarna biru. Seorang lelaki datang mendekat. “Apakah kau pekerja paruh waktu?”
Kouji mengiyakan. “Selesaikan sebelum sore!(magrib mah kalo kata dira ^^”)
“Baik.” Kata Kouji lagi. “Oh ya, apakah kau benar-benar akan menggajiku 20.000 yen?”
“Ya, tapi tidak hanya satu kapal.(mmm maap ternyata bukan kapal tapi sejenis speedboat T.T) tapi semuanya.”(HEY!!!)
Yah, dan ternyata tidak hanya dira yang heran. Kouji juga bertanya heran. Namun hal itu dijelaskan kembali oleh si bos. “Kamu harus membersihkan semuanya.”
Kouji yang masih tak percaya, menoleh ke belakang di mana speedboat tergantung (hehe kan yang mau dicuci “digantung”) banyak ckckckck tega bener.
“Jika kau hanya mengerjakan yang ini maka kau hanya mendapat 600 yen saja hari ini. Oke, ganbatte.” -.- lelaki itu pergi meninggalkan Kouji bingung.


“Kau terlambat.” kata Misaki setelah sempat mencari kesibukan dengan mencari gelombang radio di restoran. Ayah datang masih dengan seragam koki. Ia meminta maaf dan mendesah.
Misaki kemudian bertanya, “Mengapa tiba-tiba kau meneleponku?”
“Ya, aku pikir kau tahu sesuatu.”
“Tentang?”
“Tentang Kaoru dan mantan pacarnya.”
“Aku tidak tahu apapun.” Misaki berkilah.
Ayah sebal, “Kau sudah lama tidak dipukul kan?”
Dan Ayah berhasil! Misaki yang ketakutan langsung mengaku bahwa ia tahu sesuatu. Bahkan menambahkan kalau ia tahu semuanya.(nah lho? ^^) “Apakah dia siswa SMA(di kota yang sama dengan mereka)?” Misaki mengangguk. “Jadi begitu. Dengar…”


“Apa?” Tanya Misaki.
“Apa yang akan kukatakan mulai sekarang, nilailah menurut pandanganmu sebagai siswa SMA.” Kata Ayah sembari melepas celemeknya dan duduk di hadapan Misaki. Misaki masih tidak mengerti apa maksud Ayah. “Jika aku mengatakan semua tentangnya, apakah Kaoru akan marah?” (maksudnya menceritakan semua tentang Kaoru pada Kouji)
Misaki menjawab lantang, “Tentu saja!”
“Lalu jika aku memintanya untuk melihat Kaoru, apakah Kaoru akan marah?” Tanya Ayah lagi. Misaki terdiam. “Tidak apa-apa jika kamu berbohong padanya. Lakukan ini demi aku. Apakah dia akan marah?”
Misaki menunduk, “Ketika dia terluka, dia akan menangis kan?”


Kouji masih membersihkan boat. Kali ini dia melepas seragamnya (biar gak terlalu basah dan kotor kata dira). Menggosok, menyiramnya dengan air. Kotornya! Ini pekerjaan yang melelahkan. Sejenak, Kouji mengelap peluh di kening dengan lengannya.



Kaoru duduk menghadap tempat tidurnya, memangku dagu saat Ibu mengingatkan tiba waktunya makan malam. Kaoru pun turun. Tak lama, suara Kouji mengagetkan Kaoru, “Apakah piring-piring ini tidak apa-apa?”

 
Kaoru heran melihat Kouji di rumahnya. Ia berbalik pergi. Ayah dan Kouji jadi bingung. Tapi, Kaoru turun lagi dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya dan melihat orang tuanya serta Misaki dan Kouji masih duduk di tempat masing-masing, belum menyentuh makanan. Serentak keempat orang itu memandang Kaoru heran. Kaoru memegang pakaian dan rambutnya (tidak ada yang salah kan? J pikir dira) dan bergabung dengan mereka. Ibu tersenyum simpul.


Setelah semuanya lengkap duduk bersama, Kouji (tak lupa) meminta maaf pada Kaoru karena telah mengganggu (interupsi gitu hehe). Tapi Kaoru seolah tidak menghiraukannya dan berkata Itadakimasu dan mengambil sumpitnya, memulai makan. Misaki dan yang lain pun menyusul.
Eh Ayah malah nyeletuk liat Misaki, “Tidak biasanya kau makan banyak?”
“Maaf.” jawabnya dengan mulut yang masih penuh nasi.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan.” -.- dasar Misaki.
“Fuji, jangan dikembalikan (makanannya)!” kata Ibu.
“Hehe, semuanya terlihat enak.”
“Kamu anak yang sangat baik.” Ayah memuji nih ceritanya.
“Tidak.”
“Tidak, itu benar. Kamu anak yang sangat baik. Makan ini. Makan ini.” Ayah menunjuk masakan di depan Kouji.
“Ya, aku akan memakannya nanti.”
Kalau tadi Ayah yang nyeletuk, giliran Kaoru (yang sama sekali belum mulai makan) sekarang. “Ada yang tidak benar. Tidakkah ini aneh? Ide siapa ini?”
Kouji berinisiatif untuk menjawab. Ya, keadaan berubah canggung. “Ayahmu yang mengundangku ke sini.”
“Ayah!(It’s time for breaking) Apa yang kau katakan pada Fujishiro?”
“Jangan marah.”
“Aku tidak marah. Tapi ada apa ini? Apa yang kau rencanakan(Ayah)?”



Tiba-tiba Kouji bangkit dan menghampiri Kaoru, menyerahkan secarik kertas padanya. “Ini.”
Kaoru mengambil dan mengamatinya,
Bagaimana cara untuk membuat lagu CD yang original?
“Tidak masalah apapun itu, aku hanya ingin mendengar kau bernyanyi satu kali lagi. Tetapi karena aku tidak terlalu pintar, jadi yang terpikir hanya ini.” Kata Kouji.
Kaoru tidak menanggapi. Ia menggigit bibirnya. “Aku hanya baru mulai bekerja paruh waktu. Aku tidak punya tabungan sama sekali.” Kouji merendah.
Ayah menyahut, “Jika masalahnya adalah uang, aku bisa mengaturnya.”
“Benarkah?”
Ayah mengangguk. Ia bisa. Kouji lega. “Aku pikir lebih baik anda tidak perlu ikut terlibat.”
“Kenapa?”
“Ini adalah keputusanku sendiri. Aku ingin ini berakhir dengan kemampuanku sendiri.”




Kouji menoleh ke Kaoru, “Bagaimana menurutmu? Bukankah kau tertarik untuk mengembangkan suaramu?”
Kaoru sejenak terdiam kemudian mengangguk perlahan. Kouji tersenyum senang, “Aku melakukannya.”


Kaoru dan Kouji berjalan-jalan di luar (haha yang satunya pake sepatu yang satunya pake sandal ^^”) “Aku tidak pernah berpikir kamu akan berpikir sejauh itu demi diriku. Terima kasih.” Kaoru berjalan sambil terus berbicara jika ia sebenarnya tidak yakin bisa melakukannya. Orang seperti dia…apa benar bisa?
Kouji terhenti mendengarnya. Kaoru yang tersadar jadi bingung dan menoleh, apa dia mengatakan sesuatu yang salah?


Tiba-tiba Kouji mengatakan, “Aku menyukaimu.” Dan tentu saja disambut dengan nada heran Kaoru. “……Bahkan jika kau tetap seperti ini. Ayo kita bertemu di malam hari saja kalau begitu. Kau bisa tidur di hari itu, lalu aku akan menjemputmu setelah matahari terbenam.”

“Hai.” Kaoru langsung membelakangi Kouji, menutup perasaan terharunya. Ia menangis. Haha, Kouji langsung tahu dan mendekati Kaoru. Ia menggodanya, “Hey! Kau menangis?” Kaoru jelas menghindar :) “OF COURSE NOT! Dasar bakka!” Aih, aih dua sejoli ini… Mereka terus saling mendesak dan menyanggah haha. Tapi akhirnya Kouji berhasil menatap Kaoru dan menyemangatinya (dengan menarik pipinya), “Smile!”
Kedua wajah yang sama-sama menahan air mata T.T “Wajah yang aneh.” Ejek Kouji.
“Kau jahat.”
Well, emang inilah suasana romantisnya, jadi pas aja kalo mereka ka-i-es-es-i-en-ge dan akhirnya berpelukaaaaaaan!



Gak tahan ngeliatnya jadi bersambung dulu… Next : FINAL! Sinopsis Taiyou no Uta part 7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Daughter Seo Young - "Ahjussi" Episode 15 - 24

My Daughter Seo Young - Jealous Episode 15

Spesial Spoiler Ending My Daughter Seo Young Episode 16 - 30