Sinopsis JMovie Taiyou no Uta Part 7-End

Sinopsis Taiyou no Uta Part 7-End

 
 Kaoru sudah di rumah sekarang. Ia duduk di meja dekat jendela kamarnya sambil memainkan gitar. What the tittle of her song? Hehe, malam hari saatnya mengucapkan : Goodbye Days! ^^





Hari sudah pagi, terik matahari menyinari Kouji yang masih tertidur. Di sebelahnya ada kipas dengan bendera India! What the meaning? Wkwkwkwk hiraukan saya please :P (Misaki dan Kaoru juga belum bangun rupanya – kompak ^^) Tak berapa lama ia terbangun dan menemui kedua orang temannya yang datang memberikan papan selancar padanya. So Sweet cieeee Mereka tertawa bersama. Kemudian Kouji pergi ke tempat Kaoru dan bercanda dengan mencoba mengajarinya, padahal mah dia yang gak bisa -.-“




Tak terasa sudah sore. Kouji menyempatkan diri melihat matahari yang anggun terbenam. Ia menghentikan pekerjaannya sejenak.
Di kamarnya, Kaoru terus berlatih. Tapi entah kenapa tangannya terasa kaku. Ia berhenti memandanginya. Misaki jadi ikutan berhenti membaca. Ia menoleh ke arah Kaoru. “Ada apa?”
“Aku hanya sedikit lelah. Aku akan mengambil makanan sebentar.” jawabnya kemudian turun ke lantai bawah. Ia bercermin sejenak, menatap tangan kirinya seolah bertanya kenapa.



Kaoru membawakan sesuatu dari kulkas untuk Misaki. Gadis berkacamata itu menikmati makanannya, sedangkan Kaoru memainkan gitar. Tetapi Kaoru lalu berhenti dan memperhatikan tangan kirinya. Tangan kiri Kaoru yang menyetel kunci untuk nada tidak bisa digerakkan, padahal tangan kanannya bisa. Sehingga meskipun ia terus memainkan gitar, yang terdengar tetap sama. Misaki yang sebelumnya makan kini terdiam prihatin.  Kaoru mendesah, wajahnya tertunduk sedih.


Seorang dokter mengamati hasil scanning. Ayah juga di ruangan yang sama.
“Otaknya mulai mengerut.”
Ibu memegangi tangan Kaoru yang kini terbaring di kamar periksa rumah sakit.
Dokter melanjutkan, “Gejala dari gugup yang berlebihan mulai muncul. Kemungkinan besar dalam waktu dekat ini seluruh tubuhnya akan lumpuh.”
“Dan dia akan mati kan?” tanya Ayah dengan raut yang tegang menahan kesedihan. Ayah langsung berdiri dari kursi dan pergi dari ruangan itu sambil menutup pintu dengan kesal. (hihihi, Ayah Kaoru pake celana yang sampe lutut, lho buat ke dokter!)
Ayah terduduk sendiri di lobi rumah sakit ketika Dokter datang menemaninya.
“Tetapi, bukankah ini aneh Dokter?”
“Apa?”
“Aku tidak pernah mengizinkannya pergi ke bawah sinar matahari. Dia selalu mengatakan ingin pergi keluar saat kecil. Bagaimanapun dia menangis dan berteriak, aku akan menamparnya dan menguncinya di rumah. Tetapi kenapa? Kenapa harus terjadi seperti ini? Bagaimana aku bisa mengatakannya? Aku sudah melakukan semua yang ku bisa. Apakah semua itu sia-sia?” Ayah menangis. “Kenapa? Kenapa? Kenapa putriku yang harus menderita dengan takdir ini? Akan lebih baik jika ini kejutan (dan aku tidak dipersiapkan untuk itu).” Ayah masih terisak.


 Fujishiro-kun datang. Ia ke kamar Kaoru, “Aku masuk.” Ia melihat Kaoru yang kini terduduk. “Bagaimana kabarmu?” Yang ditanyai hanya diam. Tangannya masih belum bisa digerakkan.
“Maaf.”
Kouji sedikit terkejut. “Aku tidak bisa menyanyi lagi. Maaf.”
Kouji seakan tidak peduli dan menuju ke samping jendela. “Aku tidak melakukan hal yang aneh kan? Kamu dapat melihatku dari sini kan?”
“Hal aneh apa?”
“Seperti ‘memasukkan tanganku ke hidung’?” (gtw bahasa halusnya :P)
“Tidak, kamu tidak melakukannya.” Kaoru tersenyum.
“Kalau handstand atau melapor?”
Kaoru lagi-lagi menjawab sama. “Tidak, tidak.”
“Dan apakah kamu mendengar keributan yang aneh?” Kouji semakin bersemangat bertanya ^^
“Tidak.” (aish!!! Kouji menampakkan senyum dengan gigi-giginya! )
“Benarkah? Senang mendengarnya.” Kouji kembali terdiam.
Kaoru mendekati Kouji, ia masih memegangi tangan kirinya yang tak dapat bergerak.





“Saat aku pertama kali melihatmu, Kouji seperti anak-anak.” Kaoru memandangi jendelanya, memutar memori.
=Flasback=
Kouji dengan vespanya berhenti di tepi jalan, memandangi papan surfing. Kaoru melihatnya dari jendela. Kouji kemudian turun  dari motornya, mengelus-elus papan surfing yang bersandar (kayak orang aja) di depan sebuah rumah sambil celingak-celingukan gak jelas (DASAR! DAH ALAMAT NIH NAMANYA!). Kaoru semakin memperhatikan. Ealah, yang diperhatikan cuma menidurkan papan surfing itu dan mulai bergaya kayak peselancar beneran di samping papan surfingnya. Karena gak afdol rasanya kalo cuma bergaya di samping papan surfing, Kouji coba melepas sepatunya dan menaiki papan surfing itu! Lalu seorang lelaki pemilik benda itu keluar dari rumah tersebut. Lelaki itu langsung menasihati Kouji. (Khayalan dira mode on :
“Heh? Kamu ngapain naik-naik di papan seluncurku?”
“Maaf, maaf! Tapi aku tidak melakukan apa-apa, sungguh!”)
Kouji mengangkat tangannya. Lelaki itu mengamati papan surfingnya. (tenang Kouji you’ll be alright!). Ia lalu pergi membawa papannya. Sementara itu Kouji terus saja meminta maaf. (kesian, kesian à baca dengan logat upin ipin). Ia hanya bisa melihat punggung peselancar itu pergi.
Dan di tempat yang sama, (entah beberapa waktu kemudian) Kouji memamerkan papan selancarnya kepada dua orang teman lelakinya. Mereka tampak mengagumi papan surfingnya. Kaoru yang melihat mereka hanya tersenyum. (eleuh, eleuh neng geulis tambah geulis aja mah!) Tiba-tiba... (TUTUP MATA!!!) Kouji membuka resleting celananya! AWWW!!! Teman-temannya yang kaget, menyuruhnya untuk menutup kembali. Eh dia malah membuka celananya! (PLEASE, DONT DO IT! -_____-) dan mempraktekan gaya selancar. Neng Kaoru tambah ketawa manis. (gak ngakak kayak dira) Temen-temen Kouji juga senang, (my imagination: halah, opo ae awakmu!!! Mian kalo da yang gak ngerti abaikan!) mereka mendorong Kouji lalu membantunya berdiri lagi. Kouji tertawa.
=Flasback End=
“Saat itu kau terlihat begitu senang.” Kaoru melanjutkan. “Melihatmu dari sini, aku juga jadi senang.”
Kouji tersenyum. “Kau melihatnya.”
“Yah, aku juga seperti itu.” kata Kaoru menoleh ke arah Kouji.
“Hah?”
“Pertama kali, aku memegang gitar, aku sangat gembira sepertimu.”
“Aku tau.”




Ya, ya, ya...hari sudah larut malam bagi seorang lelaki seperti Kouji untuk terus berada di kamar wanita cantik. And it’s time to go home! Kaoru mengantarkan Kouji ke luar.
“Arigatou.”
“Ya, sampai jumpa.” kata Kouji pelan. Berasa sedihnya T.T
“He.em.”
Kouji berlalu, Kaoru hanya menatapnya. Namun, tak jauh Kouji berhenti dan menoleh. Kaoru mengangguk. (Mulai deh bahasa kalbunya, baca pikiran, baca pikiran..) ketika Kouji telah menuruni tangga dan menghilang dari pandangan Kaoru, Kaoru memanggil. Kouji menghentikan langkahnya lagi.
“Bahkan meskipun tanganku seperti ini sekarang, kau tetap dapat mendengar suaraku. Kau dengar?”
“Aku bisa mendengarnya.” Kouji berkaca-kaca hiks..
Kaoru tersenyum lega, “Kalau begitu aku akan menyanyi. Aku akan menyanyi.” Kaoru mengulangnya.
Kouji mengangguk-angguk.
“Mata ne!” Kaoru melambaikan tangannya. Kouji membalasnya. Lalu Kaoru kembali ke rumah.
Kouji menangis, ia berjalan pergi.




Sebuah mobil melaju membelah jalan di malam hari.
“Wow, indahnya!” (he.eh, indah yui san! Coba dira bisa ke sana :P)
“Haha, kamu tidak usah terlalu senang seperti itu. Itu indah bukan?”
Keluarganya Kaoru dan Kouji  sampai di sebuah studio rekaman. (HEI! KENAPA FUJI KUN PAKE KUTANGAN AJA SIH DARI AWAL? Lagi musim panas kan? Ya iyalah, kalo gak gitu kesan “taiyou”nya gimana??? Haha,tetep  gak sreg aja dira ngeliatnya. Eh, yui juga pake celana gantung ato tiga perempatan tuh? ^^)
“Hebat!” Ayah takjub.
“Amazing! Seperti debut beneran!” Misaki juga senang. Ia membawa handycam dan merekam studio itu.
“Apakah kau tidak apa-apa?” tanya Kouji yang melihat Kaoru hanya terdiam.
“He.em.” (Suka banget omongan “em” nih haha :D)
Seorang pria masuk, “Oke, ayo kita segera mulai.”
“Mohon bantuannya!” Ayah membungkuk. Ibu, Misaki dan Kouji juga.
“Semangat! Kami akan menontonnya dari sini.” setelah mengatakan itu, Ayah langsung duduk. Mengusap rambutnya ke belakang, hehe dia was-was.
“Aku akan bingung (jika kalian di sini), jadi tolong tinggalkan aku.” pinta Kaoru.
“Apa? Kau tidak akan membiarkanku mendengarkan lagu ini sebelumnya?” Ayah gak percaya.
“Tolong lakukan saja apa yang dia katakan, Paman!” Kouji duduk di sebelah Ayah. “Aku akan di sini mendengarkannya.” Kouji berkata dengan pedenya ^^
“Kau juga, tolong pergi.” (kasian, kasian! Wkwkwk)
Kouji terkejut. Sambil melipat tangannya, “Apa? Kenapa aku juga?” Ayah tertawa, impas!
“Akan lebih baik jika kau mendengarnya setelah CDnya diluncurkan.” jawab Kaoru dengan senyum yang manis. (tanpa senyum aja udah manis kok!)
“Kenapa?” Kouji gak terima. Apalagi Ayah.
Tapi Ibu mengajak mereka pergi, “Hai, Hai. Kalau begitu, mari kita pergi oke? Hai, hai.” Semua keluar.
“Eh, aku juga?” kata Misaki. Dia kan udah bawa handycam -.-
“Ayo! Jangan bertanya lagi dan cepat pergi.”  Yap, yang sabar ya! :D
“Jadi, apa sebaiknya kita mulai sekarang?”
“Hai.”


Kaoru memasuki ruang rekaman. Di sana, ada orang-orang yang memainkan instrumennya. Mata Kaoru memandangi sekeliling ruangan itu hingga seseorang bertanya padanya,
“Apakah kau yang menulis lagu ini?”
“Hai.”
“Lagu ini bagus.”
“Benarkah?” Kaoru tak percaya. “Arigatou gozaimasu.”
“Ayo bekerja keras hari ini.”
“Hai.” Kaoru bersemangat.
“Kalau begitu ayo lakukan!”
Semua bersiap-siap. Kaoru menghirup nafas dalam-dalam. Pencahayaan perlahan dikurangi. Kaoru melangkah pasti ke depan mic. 

YES, RECORDING!!!



Yang menunggu dibuat gelisah tuh. Ayah, mondar-mandir. Misaki juga mencoba menguping. Alhasil Ayah jadi ikut-ikutan.
“Kau tidak bisa mendengar apa-apa.” (Haha, ketipu Ayah! Ya iyalah Yah, lha wong kedap suara..)
Ibu jadi penasaran. “Kalian berdua tenanglah!”
“Apakah ini akan baik-baik saja? Sudah mulai kan?” Ayah benar-benar cemas.
“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Ibu heran.
“Karena aku tidak mendengar apapun.”
“Itu karena dia bukan seorang ahli.” (yah! Ibu mah..)
“Dia ahli.” Sergah Ayah. (mana mau putrinya dibilangin gak ahli, Yui gitu lho!!!)
“Dia terbagus no 1.” Kouji ikutan ngomong. Semua mata menuju pada Kouji. Mendengarkan. “Aku juga kaget ketika kita pergi ke Yokohama, saat dia menyanyi, semua orang mengerubunginya.  Jika itu orang lain, maka orang itu akan disuruh untuk berhenti. Seiring bertambahnya orang, dia menjadi lebih bersemangat. Tanpa sadar, aku menjadi salah satu fansnya. Aku merasa, sekali CD ini diluncurkan itu akan langsung terjual habis dengan cepat. Perusahaaan rekaman besar, televisi, dan radio akan berebut untuk mendapatkan CDnya.” Semuanya menunduk. “Dia pasti akan jadi bintang besar nantinya.”
OKEY BABY, IT’S ALREADY NOW! JUST SMILE AND YOU CAN MAKE ALL HAPPY!  :)





Sore hari di tepi pantai. Debur ombak terdengar merdu teratur. Subhanallah. Seseorang dengan pakaian sempurna tertutup, bahkan memakai pelindung wajah (yang biasanya di tempat peternakan lebah) duduk di atas kursi roda, mengamati pemandangan ini. Ia mendongak, melihat matahari di atasnya. Ia Kaoru.
Kouji berselancar. Saat berusaha berdiri, ia tercebur. Kaoru kaget. Tapi Kouji kembali muncul. Ia melambai pada Kaoru. Kaoru pun membalasnya. Ayah dan Ibu juga berada bersama putri mereka. Duduk pada sebatang kayu. Lalu Ayah melihat di sisi yang lain, seorang anak kecil tengah bersama keluarganya juga, mencoba mendekati ombak yang mencium bibir pantai. Tetapi ia terlalu takut walaupun ditemani ibunya. Ia lalu berlari ke ayahnya. Mereka berpelukan. Ayah memandangi Kaoru.Kaoru menarik-narik pakaiannya. (seperti dira kalo kepanasan :P)





Ayah bertanya, “Ada apa?”
“Ini sedikit panas.” Ibu menghampiri Kaoru. “Apakah kipas di belakang itu bekerja?” Ibu memeriksanya.
“Jika kau merasa kerepotan, lepaskan saja itu.”
Ibu terkejut! Ayah menatap kosong. “Lepaskan! Lepaskan! Jadi kau tidak akan kepanasan lagi dan bisa berlari berkeliling.” Ayah tampak putus asa kalo gini :(
“Aku tidak mau.” tolak Kaoru. “Jika aku melakukannya, aku akan mati.” Ya, Kaoru sudah memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja. Sampai kematian benar-benar menjemputnya, ia akan tetap berusaha untuk hidup.
Ibu membenarkan pemikiran Kaoru. Ibu tidak tahu apa yang Ayah katakan tadi, Ayah pasti bodoh hehe. “Iya. Aku minta maaf.” kata Ayah menanggapi.



Kaoru berjalan pelan ke arah Kouji. Lebih tepatnya menyeret kakinya di pasir untuk mendekati Kouji “Dia selalu membuat keributan besar jika ingin keluar. Dia hidup dalam kegelapan ini. Aku tidak menyadari dia sudah tumbuh dewasa.” Ayah dan Ibu tersedu pelan.
Kaoru mengaduh, ia seperti akan terjatuh. Refleks, Kouji menyongsongnya khawatir. Haha, ternyata cuma gurauannya Kaoru ^^ syukur, syukur… Neng, Kouji bener-bener cemas lho! Gak ketawa gitu saking takutnya. Tapi Kaoru malah menarik pipi Kouji dengan tersenyum mengatakan hal yang sama dengan yang pernah dikatakan Kouji padanya, “Wajah yang aneh.” T.T



Bunga matahari menutupi tubuh Kaoru yang sedang tertidur dalam peti putih. “Tidak lama setelah itu, dia meninggal. Meninggalkan kenangan yang tak terhitung dan lagu yang dia cintai.” Kata Kouji yang menatap senja sendirian.



Mengenang Kaoru, mendengarkan lagunya. Now playing : Goodbye Days by Yui. Kaoru benar-benar meninggalkan hari-harinya.
Kouji yang sendirian berada di tempat Kaoru biasanya mentas malam hari. Sama tetep ada  putung rokok yang berserakan.

Misaki di tengah keramaian.
Di radio.
Di rumah

Maupun tempat Ibu dan Ayah berkerja. Bahkan di sekolah.
Suara merdu Kaoru yang diselingi tangis masih membahana.
Sekarang hatiku mulai berubah, itu baik-baik saja
Jika mungkin, aku tidak mau
Untuk memikirkan pemikiran-pemikiran sedih
Tetapi kau akan di sana, kan?
Waktu itu, dengan tersenyum
Kau berkata, “Yeah, hello temanku”
Itu bagus
Ketika kita menyuarakan lagu yang sama
Aku ingin di sampingmu
Aku bahagia bertemu kebaikan yang tidak menyenangkan di sampingku
La la la la la selamat tinggal hari-hari


Meski semua merasa kehilangan, kehidupan tetap berlanjut. Di akhir film ini, pemandangannya sama seperti awal filmnya. Bedanya jika di awal tampak hari mulai terang, kali ini hari akan beranjak tidur ^^

Vonis kematian? Jangan putus asa, jangan bunuh dirimu sendiri. Suka dengan pesan yang disampaikan film ini. Tapi gak semua orang yang sakit selalu ada orang yang mencintai di sampingnya. Gak jarang kan kita lihat banyak orang-orang tua yang justru menghadapi kesakitan di tengah kesendiriannya hingga terus menerus bertambah parah? We must be there guys! I hope…
Klise tapi meaningful :)

--- End ---

ALHAMDULILLAH, FINALLY UDAH SELESE!!! Tepat sebelum UN haha
Jadi inget pas mbak dini juga share sinopsis waktu kelas 3 SMA di Pelangi Drama ^^ (sinopsis A Crazy Little Thing that Called Love)
Panjang kan? Wkwkwkwk dira gak ngebayangin kalo buat sinop drama yang durasinya kayak film tapi 16 episode :P Emang mungkin ini terlalu detail karena project pertama, jadi ke depannya mungkin berubah. Lets’s see! ^^
Tak lupa, DIRA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK(lagi)!!! Dan MOHON MAAP (lagi) ATAS SEMUA KEKURANGAN SINOPSIS INI!
SEKIAN, SEE YOU! :D

Artikel terkait

Comments

Harlan said…
bagus baget.. keren. ^^
"dira" said…
aih, makasih banyak!!! ^^
ini belum apa-apa kok dibandingin sinopsis senior2 yang lain hehe
oya?udah punya blog kan?
Octavira Karina said…
Swear deh! tambah melting plus berkaca-kaca deh gue...thanks banget!..jadi pingin nonton pilemnye...
shadow said…
sama-sama :)
dira juga jadi semangat mau nulis sinop lagi
tapi bingung nyari filmnya wkwkwk
SEMANGAT XD
Yoga Mikki said…
Ini blog udah lama ya? saya bru nemunya skrang .. mksih bnyk sinopx ya , keren bngt pkokx dah
sha_dew said…
terimakasih kembali