Review Korean Drama My Golden Life Episode 6 (Part 2)

I think you will smile in the end of this episode despite of many heartbreaking scene :)


Meski kelelahan, Ji An hafal betul lingkungan rumahnya. Ia juga bisa menebak di mana mobil Do Kyung diparkir. Sama seperti kemarin haha. Do Kyung kalah lagi karena saat Do Kyung nggak mau nerima uang yang udah dia masukkan tas kertas (ganti tas^^), Ji An justru pura-pura menelepon polisi dan mengadukan situasinya. Melapor Do Kyung yang selalu menemui dan meneleponnya. 2-1. Telak.


Padahal Ji An menelepon Hyuk sebenarnya. Nama Ji An di ponsel Hyuk: Ani? Singkatan untuk Ji An-i? Shipper mana suaranya? :P Hyuk jadi khawatir dan pergi ke rumah Ji An. Di sana ia akhirnya bertemu dengan Do Kyung lagi. Do Kyung ceritanya lagi nyari kunci mobil. Dia sampai ketemu uang receh dan nggak tega buang lagi ke tempatnya. Hihi. Anak baik banget dah. Sayangnya dia malah ngelewatin kuncinya di dekat sampah yang bahkan ia jijik memegangnya. Anak orang kaya... 

Kasihan Do Kyung, hari itu benar-benar hari terburuk baginya. Bertemu dengan Hyuk malah tak menyelesaikan masalahnya. Hyuk yang juga hafal siapa Do Kyung, jelas ngibrit dengan mobilnya. Ngapain bantu orang yang sudah bikin susah Ji An? Eh, itu cuma pikiran Ji An dan Hyuk aja sih. Andai mereka tahu bagaimana baiknya Do Kyung ke orang lain. Melihat Hyuk, Do Kyung jadi punya perkiraan lain kalau yang minjemin uang adalah Hyuk dan Ji An sengaja nggak bilang untuk ngerjain Do Kyung (mikir macem-macem). Yah...yah...terserah Do Kyung lah ya.  

Hari sudah senja, Ji An khawatir dengan Ayah yang belum pulang. Sayangnya Ayah tak mengangkat teleponnya. Di pinggir sungai Han (bahkan angle kameranya persis dengan angle kamera Hae Young dan Do Kyung. Studio Dragon memproduksi kedua drama ini), Ayah menenggak sebotol soju sambil memikirkan apa yang ia perdebatkan dengan istrinya. Jika Ayah sampai membuat Ji An tak jadi pindah, Ibu mengaku akan pergi dari rumah. Jadi ini yang membuat Ayah tak mengatakan alasan sebenarnya ke Ji An agar Ji An tak jadi pindah. Coba aja kalau Ji An nggak jadi pindah, drama ini selese kali? Hahaha.

Ji An hampir selesai mengemas barangnya. Ia akan pindah besok. Karena itu Ji Ho dan Ji Tae mengajaknya menghabiskan malam bersama. Tanpa Ji Soo yang sudah bulat dengan keputusannya. Putus hubungan kakak-adek. 

Aiiiiiih...semua dialog saudara-saudara ini bikin mewek deh. Ji Tae bilang dengan santai (bisa-bisanya! sedangkan yang denger sampai terharu gini) kalau dia terlalu sibuk dengan dirinya sehingga mengabaikan yang lain. Ia mulanya bercanda harusnya memperlakukan Ji An dengan lebih baik (nggak bisa ketawa. percuma).JI Ho menyahut, meminta agar Ji An jangan sampai melupakan mereka. Dan tumpah sudah tangis Ji An. Ji Ho tuh paling bisa bikin nangis. Dia peka dan penyayang banget. Saya penasaran gimana nanti kalau dia pacaran. Atau bagaimana kelanjutan hubungannya dengan kakak cewek satu-satunya di rumah nanti, Ji Soo. Lihat Ji Ho yang menenangkan kakaknya. Memegang tangannya. Ji Tae yang mendengar permintaan maaf Ji An karena akan pergi segera, pergi untuk kehidupan yang lebih baik dan meninggalkan mereka, hanya bisa memegang kepalanya, menunduk. Saya suka banget saat-saat ini. Ji Tae selalu kelihatan wibawanya sebagai kakak. Dia nggak bisa apa-apa meski Ji An berkata demikian. Dia tak lupa impian Ji An untuk sekolah seni, ia menyarankan Ji An pergi ke luar negeri saat nanti pindah ketika mendengar Ji An tak punya rencana habis pindah nanti. 

Sampai malam Ayah tak mengangkat teleponnya. Ia berjalan kaki menyusuri jalan, hanya ditemani lampu-lampu jalan dan kendaraan yang melaluinya. Sampai Ayah terbangun di suatu tempat. Tertidur dalam posisi duduk. Ia sudah berada di depan rumah mereka dulu. HURT! Semua kenangan manis mereka ada di sana. Tergambar jelas, termasuk saat ulang tahun Ibu saat rekreasi bersama...indah sekali dulu. Mereka tampak bahagia. 

Sementara di tempat lain Ji An sudah dijemput tanpa diantar Ji Soo dan Ayah yang terlambat. Cuma selisih berapa detik doang! Ji An menahan tangisnya di mobil setelah meninggalkan mereka. Dan Ayah tak melepaskan momen mengejar putrinya walau kecil kemungkinan tersusul. Apalagi Manager Min melihat Ayah dan menyuruh Supir mempercepat mobil. 

Ayah berakhir pingsan di jalan. Tubuh rentanya tidak mampu berlari lebih cepat. Ngeliat adegan ini ngingetin saya dengan adegan Endless Love. Waktu itu Eun Soo yang mengejar mobil keluarganya. Kaki kecilnya juga jelas tak mampu mengejar. 

Di rumah keluarga Choi, semua tegang menunggu. Seo Hyun yang mencoba mencairkan suasana tidak begitu ditanggapi kedua orang tuanya. Ia seolah berbicara sendiri. Tiap liat Seo Hyun gini, rasanya pingin meluk. Kapan dia punya temen ngobrol, SWnim? Udah gemes banget...

Ji An di halaman masih ragu melangkahkan kakinya. Do Kyung yang baru datang ke sana menyuruhnya berhenti. Do Kyung heran untuk apa Ji An datang ke rumahnya. WKWKWKWKWK. Saya penasaran apa Do Kyung tetep ngasih kadonya ya ke Ji An. Dia sebelumnya sempet mampir ke toko perhiasan dan membeli sebuket bunga. 


Di episode berikutnya akan ada penampilan baru Ji An dengan rambut pendek lurusnya dan kebiasaan makan malam keluarga Choi yang sangat kaku. Ji An juga sudah bisa belanja banyak barang di mall. Ia sudah punya Do Kyung sebagai oppa-nya. Meski Ji An tak semudah itu pula mendapat pengakuannya. Hmmmm tarik menarik lagi dua orang ini. Tapi jujur, saya menantikan Ji An satu mobil dengan Do Kyung hahahaha. 

Oh ya, satu adegan Tuan Choi yang menarik buat saya di sini cuma waktu dia meminta istrinya mengganti tirai kamar Eun Sook. Mungkin maksudnya Tuan Choi ingin agar tirai itu bisa dibuka dan membuat Ji An dapat melihat ke luar dengan bebas saat merasa tak nyaman. Entah kenapa yang paling perasa sama putrinya buat saya Tuan Choi bukan Nyonya No. Nyonya No hanya menilai kebutuhan Ji An dari anggapan dia sendiri. Beberapa kali saya melihatnya demikian. Memikirkan hal dari sisi Ji An Nyonya No kurang mampu. Berbeda dengan Tuan Choi yang lebih pengertian. 

Balik lagi ke awal drama karena semua kekacauan ini begitu nggak masuk akal LOL. Betapa mudahnya Ji An masuk ke keluarga Choi tanpa bukti apa-apa kalau dia anak kandung mereka. Bukan pula dengan hasil tes DNA kedua yang spesifik membuktikan Ji An adalah Eun Sook. Mereka, lebih tepatnya Nyonya No (saya nggak tahu bagaimana Tuan Choi akan bertindak kalau tahu istrinya menemukan Eun Sook dengan cara begini), sangat percaya kata-kata Ibu. Di episode 2 Ibu tepat waktu sekali mengatakan Ji An putri mereka. Padahal jika Ibu menolak, Nyonya No sudah akan melakukan tes DNA. 
  
Jadi mian SWnim, untuk kali ini saya nggak impress sama idenya. Tapi tanpa ide itu juga saya nggak bisa lihat banyak adegan menarik yang mungkin muncul dari cerita seperti ini๐Ÿ˜… Seperti Do Kyung dan Ji Soo (suka banget sama chemistry kakak-adek keduanya) atau Seo Hyun dan Ji Soo, atau suami istri keluarga Choi dan Ji Soo. Kan mereka keluarga yang terpisah. Gimana nanti mereka ketemu dan bisa click satu sama lain itu bakal menarik banget.

Dan apakah sepeninggal Ji An, Ji Soo bisa bekerja keras? Walau dia diremehkan kakak-kakaknya sih nggak bakal betah ngambek lebih dari 1 minggu. 

Eh, reviewnya tambah pendek ya? Saya banyak ngecut obrolan dan scene pendek. Kalian bisa menemukannya di blog sinopsisnya.

Artikel terkait

Comments