Review Korean Drama My Golden Life Episode 2 (Part 1)

Scene for the last ending isnt intrigued me to watch its next episode. Still, rating for this episode increase to 23%. High enough. Yeah...Sunday broadcast seems always get the higher results. 

Nyonya No pingsan setelah melihat foto jepit Eun Sook yang dikirim seseorang. Ia dihantam kenyataan putrinya masih hidup dan tumbuh hingga dewasa tanpa ia ketahui. Sejak sadar dari kecelakaan di hari menghilangnya sang putri, hal pertama yang ditanyakan suaminya adalah keberadaan Eun Sook. Di mana Eun Sook hilang? Namun, hanya butir payet hiasan jepit saja yang jadi petunjuk peninggalannya. Ji Soo...Ji An...siapa yang merupakan putrinya? 

My Golden Life Episode 1 (Part 2)

Ji An berkomentar pakaian yang dikenakan Ji Soo terlalu girly. Mr. Sun-nya bisa saja langusng tahu apa maksud kedatangan Ji Soo. Ji Soo berganti pakaian kemudian. 

Ji An masih di depan meja riasnya mendesah tegang. Ini hari pengumuman apakah ia diterima atau tidak sebagai pegawai tetap. Ji Soo menyemangati kakaknya, bukankah Ji An yakin itu posisi buatnya sejak awal. Hehe. Itu mah buat menyemangati diri saja. Tapi positive thinking nggak ada salahnya. Ah...hari itu bakal jadi hari besar buat kedua saudara ini. Ji Soo juga gugup kalau Mr. Sun menolaknya.

Ji An lalu menawarkan diri berpura-pura sebagai Mr. Sun. Bagaimana kalau Ji Soo latihan dengannya dulu. Ji Soo nggak kuat nahan ketawa. Mereka lebih baik berangkat saja.

Persiapan Ayah selesai. Sebelum berangkat, Ibu membahas mengenai kestabilan pekerjaan Ayah. Bagaimana kalau meminta saran bisnis dari suami Hee Ja tetangga mereka yang bisa sukses sampai sekarang. Ayah seperti tak mau lagi kerja begitu apalagi dengan meminta bantuan orang lain. Kalaupun dia mau kerja sendiri, dia juga sudah cukup tua untuk itu. Mendengarnya, Ibu berujar, nggak masalah soal usia Ayah, ini soal usia anak-anak mereka. mereka juga harus bantu mempersiapkan pernikahannya. Mereka punya 2 putra dan biasanya pihak pria yang menyediakan rumah. 

Ayah beralasan putranya yang bungsu masih sangat muda sedangkan yang sulung sudah kerja lama mapan dan mungkin bahkan tidak butuh bantuannya. Ibu sudah merengut duluan. Untungnya Ji Soo mendatangi ayahnya untuk berangkat bersama. 

Mereka ber-5 berjalan bersama, sekalian mengantar Ayah ke halte bus. Ayah tak lupa menyemangati Ji An, pasti dia diterima. Padahal Ji Ho malah menyuruh ayahnya tidak terlalu berharap tinggi. Dia sudah pengalaman, jadi anggap saja mereka tak mendengar kabar apa-apa. Haha...kata-katanya nyelekit sih tapi dibikin gurauan saja karena Ji Soo langsung mengoloknya yang nggak segitu pekerja keras kayak kakak mereka itu. Awww kok saya liat natural banget ya kakak-adek ini bicekring fisiknya😉 Seneng banget liat senyum Hyun Soo...

Ayah juga menyemangati Ji Ho supaya bisa masuk uniersitas dan Ji Ho dengan pedenya berjanji bakal membawa hasil yang bagus. Hhhh...anak bungsu kabarnya lebih fun ya? (look at him and Nam Ji Hyun) Hyun Soo pasti seneng banget meranin Ji Ho. Ia melet ke arah Ji Soo dan dibalas kejaran kakak ketiganya tersebut. Ji An mengejar mereka pula agar jangan sampai bertengkar. Sigh, sweet.

Ayah dan Ji Tae di belakang berbincang sendiri. Ayah bertanya mengenai pacar Ji Tae. Apa ada? Ji Tae mengatakan dia sibuk. Ayah jadi mengungkit tentang  pernikahan, bagaimana bisa nikah kalau belum pacaran sampai sekarang? Ji Tae menjawab kalau zaman sekarang nggak banyak yang mau nikah muda. Eh. Ayah seakan memaksa senyumnya. Miris atau senang? Buat saya lebih ke arah miris. Jangan-jangan Ayah takut itu karenanya....

Sepeninggal Ayah, Ji Ho menerima sms dari pacarnya. Gubrak. Saya nggak terlalu suka perubahan wajahnya dari yang datar banget berubah seneng banget. Nggak tahu nih apa anak cowok semua begini.

Bus Ayah datang. Ayah berangkat, melambai pada semuanya. Ia terlihat sangat senang hanya dengan melihat anak-anaknya tersenyum dan sayang banget satu sama lain. Ia menghela nafas, setelah memancarkan senyum yang cerah. Ayah sadar, ia akan berpisah dengan mereka untuk beberapa hari ke depan.

Bos Ji An akhirnya datang. Ji An langsung menghampirinya untuk minta maaf soal mobil kemarin. Bosnya tak terlalu mempermasalahkan. Bukan kecelakaan yang disengaja kok. Bos bilang ia yang akan memperbaiki sendiri mobilnya, sehingga Ji An bisa fokus ke penggantian kerusakan orang lain.

Ji An, mengumpulkan proposal acara untuk ultah perusahaan ke seniornya. Sebenernya nggak bisa sih karena itu untuk pegawai tetap. Tapi sang senior menerimanya sebab positif Ji An akan jadi pegawai tetap besok. Jangan lupa bikin kopinya setiap hari ya? Eaaaaa.

Ji An sangat senang. Meski yang lain jelas nggak suka. 

Hmmmm, saya kok feeling Ji An sama Do Kyung bakal klik nanti ya soal pengembangan bisnis perusahaan. Ji An membuat ulang proposalnya setelah menemukan barang bekas di tempat sampah. Semacam sendok unik. Sedangkan Do Kyung sebelumnya juga membahas produk ramah lingkungan. Ya...we will see.

Ji Soo telat pergi ke toko roti. Tapi ia lihat ke dalem nggak ada orang. Ternyata paman roti ada di luar. Secara eksplisit menyatakan bersedia merekrutnya sebagai pegawai di tokonya. Tapi jangan pernah kau belajar memanggang, pesannya. Ia katanya nggak enak sama ortunya Ji Soo sebab upah yang diterima Ji Soo malah dipakai untuk membeli rotinya yang notabene nggak murah. Apalagi Ji Soo juga mau hengkang dari pekerjaan lainnya di salon. Hey, ahjussi tahu banyak tentang Ji Soo^^

Bahagianya Ji Soo...assa!

Sip. Petunjuk keluarga No pelan-pelan kebuka buat saya haha. Jadi Nyonya No dan Tuan Choi ini kayaknya dijodohkan. Pemilik perusahaan Haesung adalah Ketua No, ayah Nyonya No. Keluarga ini sepertinya nggak begitu hangat. Ketua No sampai sekarang tidak menyetujui rencana bisnis tuan Choi. Dan Tuan Choi juga nggak menjenguk istrinya yang pingsan tadi pagi. Dingin sekali perlakuannya, namun Nyonya Noh seolah bisa mengerti. 

Terkait warisan. Harusnya nanti warisan Ketua No sih jatuh ke putrinya ya. Tapi nggak, warisannya bakal jatuh ke Do Kyung. Ketat sekali. Anak cewek nggak dikasih. Pantes Nyonya No nyuruh Do Kyung manggil kakeknya dengna sebutan Ketua No. Memang kaku keluarga mereka sejak lama. 

Nyonya No meminta sekretarisnya atau Manager Min untuk mengadakan tes DNA. Empat hari harus sudah selesai, nggak peduli biayanya berapa. Tak boleh ada seorang pun yang tahu pula.

Gubrak. Ji An beneran ketemuan sama Woo Hyuk, Mr. Sun-nya Ji Soo. Di episode sebelumnya, Ji An menerima ajakan makan siang Woo Hyuk lewat telepon di depan Ji Soo. Cuma Ji Soo nggak tahu. Ji An masih nggak tahu juga siapa sebenarnya Mr. Sun adiknya. 

Aglio e olio. Kesukaan Ji An. Woo Hyuk sudah tahu itu dan sudah memesannya. Ji An terkejut Woo Hyuk bisa tahu. Aih...yang nonton pasti tahulah. Ji An saja sadar pandangannya Woo Hyuk beda (nah lho, saya kok keinget shipper thingy ya? ada yang ngeliatin costarnya beda dengan costar yang lain. ignore).

Sudah lama tak bertemu, sepenglihatan Ji An, Woo Hyuk memang nggak malu lagi. Di mata Woo Hyuk, Ji An juga lebih kalem? Dia terbiasa dengan Ji An yang keras dulu. Efek sudah kerja kali ya. Ji An sudah sering menghadapi banyak macam orang. 

Woo Hyuk dan Ji An rupanya pernah janji ke jurusan interior design bareng. Sayang Ji An nggak jadi ke sana karena orang tuanya bangkrut. Berbeda dengan Woo Hyuk yang sudah jadi pebisnis di usia mudanya. Usaha onlinenya cukup sukses dan ia merencanakan bisnis yang baru.

Woo Hyuk tersenyum lebar melihat Ji An yang makan dengan lahap sebelum Ji An cerita soal keluarganya. Woo Hyuk sampai menawarkan piringnya. Tidak Ji An hanya terbiasa makan di waktu yang sempit sehingga makannya selahap itu. Tak lama, Ji Soo menelepon. Nama kontaknya, si perajuk? Ji Soo cuma mau cerita soal penerimaannya di toko roti. Ji An gemes, adiknya itu hanya mau ucapan selamat darinya sampai langsung menelepon? Haha. 

Woah...Woo Hyuk baru tahu Ji An punya adik perempuan. Ia kira Ji An anak satu-satunya yang disayang banget (karena selalu ceria saat sekolah dulu?). Their flashback will be on some next episode for sure. So much memories havent been told yet. 

Oh ya, apa kata Ji An tadi? Nembak? Woo Hyuk mengungkit tentang Ji An yang ngobrol dengan Ji Soo soal pengakuan cintanya. Itu tidak udah dilakukan orang-orang di usia kita. Dia sudah jarang dengar soal itu. Nggak tahu nih Woo Hyuk kalau yang mau ditembak itu dia! LOL

Do Kyung minta sekretarisnya, sekretaris Yoo untuk menjual mobilnya yang sudah rusak. Ia ngasih nomor hp sekretaris Yoo kepada Ji An. Jadi mungkin kalau nanti ada telepon minta saja uang 5000 dollar. Sekretarisnya nggak percaya. Mana cukup??? Do Kyung pun bilang dia cuma berdonasi. Nggak tega lihat Ji An yang memohon padanya. Lagipula dia emang niat ganti mobil baru. 

Bentar. Ruangannya Do Kyung cukup kecil lho untuk anak chaebol. 

Bos Ji An, dipanggil kepala manager tim. Ji An tak dapat menutupi ketegangannya. Sayang, petir menyambar di siang bolong. Bosnya justru membawa Ha Jung memperkenalkan diri sebagai anggota tim yang baru. Saya bisa ngungkapin kekeselan dengan gimana ya? Kehabisan kata. 

Pegawai yang lain juga membeku sampai harus diperintah untuk memberi sambutan tepuk tangan. Sebelum pergi, Ha Jung melirik Ji An seolah meremehkan. Bosnya mengapresiasi kerja para pegawai magang selama 2 tahun. Ia begitu menyesal tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Keputusan perusahaanlah yang mutlak. Percaya nggak sih, dia ngomong gini tanpa melihat ke arah Ji An yang selalu saja dia suruh-suruh. Bersalah? 

Senior lain langsung ngacir. Sisanya melampiaskan kesal tanpa kata. 

Ji An sendiri begitu sadar dari keterkejutannya langsung menyusul Ha Jung di luar kantor. Lebih nggak percaya karena alasan Ha Jung tak mengatakannya saat mereka bertemu kemarin hanyalah untuk melihat Ji An yang sebenarnya. Di kampus dulu, di tengah kesulitan finansialnya, lelahnya terlibat utang dan kerja paruh waktu, Ji An di pandangan Ha Jung tak pernah stres, mengeluh, atau menggerutu. Sungguh menarik sekaligus aneh. Ji An tak pernah iri pada teman dekatnya itu karena Ha Jung bahkan tidak perlu khawatir soal hidupnya. Ia punya segalanya. Tapi kenapa Ji An yang malah terlihat tanpa masalah? Apa dia pura-pura tidak iri? So cool sekali sampai membuatnya tersinggung. WHAT!

Sabar...sabar...maksud Ha Jung ia tersinggung karena hal lain sebenarnya. Ji An nggak nerima bantuan Ha Jung membayari acara kampus dengan alasan itu bukan uang Ha Jung sendiri. Ji An sudah tahu soalnya betapa susahnya mencari uang. Nggak maksud mengolok Ha Jung langsung kalau buat saya. Ji An tersenyum bukan untuk mengejek pula, buat saya itu seperti ungkapan seneng temennya mau bantu. Nggak perlu...nggak perlu...itu bukan uangmu... 

Capek ya. SWnim kembali ngomong di dramanya, kalau apa yang kita perbuat itu nggak selalu diartiin orang lain sama seperti maksud kita sebenernya. Mereka bisa menyalah artikannya karena mereka punya pemikiran yang berbeda. Ya kembali lagi disebabkan situasi dan kondisi yang membentuk pemikiran mereka itu sampai dewasa. Saya bisa bicara begini karena apa yang sudah saya lewati dan dengar dari orang-orang sekitar saya. Saya mungkin berbeda dengan orang lain karena apa yang kita lewati dan dengar juga berbeda. So, you know why you are special? Because each human is unique and that is what makes you being your true self. 

"Bukankah orang-orang ingin punya uang untuk memperlihatkannya kepada orang lain? Bukankah karena itu kau masuk perusahaan besar tanpa kualifikasi apapun? (cuma lulusan bisnis dan bukan spesialisasi marketing maksudnya?)"

Ha Jung ingin melihat wajah Ji An yang merasa rendah di depannya. Sebenernya percuma juga sih dia bilang, tetep bakal sama juga selanjutnya. Hanya saja kalau Ji Ahn tampak terluka waktu itu, mungkin dia bakal mundur. Dengan ini ia mengira Ji An akan memohon padanya posisi itu atau paling tidak ia dapat tamparan. Tapi yang diterima Ha Jung justru tonjokan. Mereka kemudian berseteru di depan perusahaan dan dilihat Do Kyung. Panggil polisi!

Di kantor polisi Ji An nggak mau damai. Dia nggak akan ke pengadilan juga. Menurutnya ini setimpal dengan apa yang dilakuin Ha Jung padanya. Tinggal ia tulis nanti di website kampus.

Ayah Ha Jung meminta maaf atas kelakuan kekana-kanakan Ha Jung. Tapi ia juga mengingatkan kalau Ji An juga salah.

Ji An jadi inget dulu ia juga bertengkar sama temen SMA Ji Soo gara-gara malakin adiknya itu. Ji An disuruh minta maaf sama Ayah. Pulang-pulang, Ji An nggak mau dianter mobil. Walhasil Ayah yang turun dan mesejajari putrinya jalan kaki. Ia memang marah sama Ji An yang pakai kekerasan, tapi ia tak lupa menghargai tindakan putrinya yang menghukum teman adiknya itu. Ayah ngajak makan. Ji Soo nyeletuk ada barang yang Ji An mau. Oke, nanti kita beli habis makan. Ayaaaaaah 😭 Sekarang udah beda...Ji An malah ngeliatin temennya itu dianter mobil sama ayahnya. Ia terisak memanggil-manggil ayahnya.

"Beginilah dunia."

Connecting to Ayah. Ayah ngeliatin hpnya yang nggak ada panggilan daari Ji An. Ia nelpon istrinya, hpnya mati. Ji An ngeliat ponselnya, ada panggilan tak terjawab dan pesan dari kedua orang tuanya, adiknya dan Woo Hyuk. Ampun dah, mana uangnya nggak cukup buat naik bus. Tadi kan nggak bawa dompet nyusul Ha Jung. Hari ini sungguh ya! Bahkan ketika tenaganya sudah hampir habis, ia masih dicobai begini...

Di tempat lain Ji Soo nggak dihiraukan Woo Hyuk. Nasib. Gimana mau nyatain perasaan kalau ngajak ngobrol aja susah. 

"Aku tidak menyuruh-nyuruhmu karena kau pegawai kontrak. Aku mengajarimu karena kau akan jadi bagian kami," Ji An berjalan sampai gelap. Ia sudah memakai masker sekarang menutupi luka lebamnya di wajah.

tuan Choi pulang menanyai kabar istrinya. Yang ditanya sensi karena suaminya bahkan nggak ngunjungin istrinya yang pingsan kayak nggak khawatir sama sekali Tuan Choi beralasan ia sudah tanya Dokter kalau istrinya itu cuma anemia.

Nyonya No heran, kenapa Tuan Choi nggak tanya masalah Eun Sook. Sepertinya Nyonya No merasa suaminya menghindar karena menyalahkannya (?). Tuan Choi menjawab itu karena istrinya juga tak menyebutnya lagi. Sebenernya sweet lho ini. Dia nggak mau bikin istrinya terkenalng luka lama, merasa bersalah.

Ngomong-ngomong, Nyonya No seperti punya kebiasaan di bulan Agustus. Liburan ke luar negeri. Apa ada kaitan sama bulan menghilangnya Eun Sook? Nyonya No bilang, dia nggak mau liburan tahun ini. Masih ada urusan.


Ah...kenapa makin panjang sih review ini. Gini ini kalau suka. Padahal belum terlalu detail tapi pinginnya komen terus...

Artikel terkait

Comments

Post a Comment

thank you very much for your comment. :)
Hope you can come back!!!