Episode 1 ini berdurasi 1 jam 11
menit dengan kurang lebih 3 iklan di selanya. Karena itu akan sangat panjang.
Sementara episode berikutnya berdurasi lebih pendek 46 menit. Episode 1 ini
mencakup beberapa menit awal episode 2 versi Koreanya.
Oh ya, saya membuat versi ini karena saya belum melihat ada yang serupa. Kalau sudah ada, tolong beritahu di kolom komentar ya! Bisa saya alihkan pembicaraan saya ke topik lain...
Sebelumnya: Review JDorama Mother (2010) episode 1 part 2
Credit: NTV and tvN
engsub by d-addicts
Review JDorama Episode 1 Part 3
Nao menyadari Rena tak ada di
kursinya (mungkin jam pelajaran sebelumnya bukan dia yang mengajar). Ia
bertanya pada anak-anak dan mereka menjawab, tadi dia di sini. Mereka mulai
gaduh. Bahkan ada yang menambahkan Rena tidur di kamar mandi (saking lamanya? atau memang UKS disebut demikian terjemahnya? soalnya di versi korea juga sama). Nao
bergegas pergi ke UKS.
Ia masuk memberi salam, agak
membungkukkan badannya pada yang ada di sana (saya suka banget gesture ini!
Sederhana tapi kelihatan sopannya). Seorang dokter wanita dan ibu guru Miura. Bu
Miura memberi salam perpisahan pada bu dokter dan menuju Nao. Dengan suara
sangat pelan, ia menanyakan pada Nao apa Nao mendapati sesuatu tentang Rena. (Suara
mereka pelan biar Rena nggak kedengeran T.T Manisnya.. Bu Miura ini baru
kelihatan cemas di sini)
Nao menebak, apa Rena pingsan? Bu
Miura menjawab kemungkinan Rena punya gangguan gizi. Nao jelas terkejut
mendengarnya. Bu Miura kembali menjelaskan, berat badan Rena, tingginya, dan kemampuan
motoriknya tercatat di bawah rata-rata (wah! Gini ini Jepang! Mereka kayak
punya catatan ini di sekolah. Pernah diceritain sama salah satu dosen yang
pernah ke sana). Ibu juga menceritakan pada Nao kalau ada memar dan goresan di
tubuh Rena.
Bu guru Song yang keluar dari UKS jadi berpapasan dengan Soo Jin. Bu Song bercerita, suster menduga Hye Na mengalami gangguan gizi. Dan lagi, Hye Na juga punya banyak bekas luka di seluruh badannya. Bu Song memang sangat cemas pada anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tunggal seperti Hye Na, tapi Hye Na anak aneh juga. Tidak menangis apapun yang terjadi padanya. Apa Soo Jin tidak memperhatikan yang ganjil darinya? Soo Jin menoleh ke dalam UKS.
Rena di balik tirai ranjang UKS
tengah menulis satu hal lagi yang ia sukai di catatannya. Agak tengkurap ia
menggoreskan pensil di atas kertas: ‘tirai putih di UKS’. Hehe. Sebelum kemudian
Nao masuk dan menemukan Rena pura-pura tertidur.
Hye Na berpura-pura tidur saat mendengar ada suara pintu terbuka. Sekat di hadapan bednya tak menutup sempurna dirinya yang terbaring di sana.
Rena tahu yang masuk adalah Nao,
jadi ia bangun dan bertanya ke mana Bu Miura. Nao menjawab, Bu Miura pergi ke
kantor.
Rena berkata, Bu Miura menanyakan
padanya apa ia menyukai ibunya. Rena penasaran kenapa Bu Miura bertanya seperti
itu (arah pandangan Rena ke bawah). Nao lalu bertanya apa jawaban Rena. “Tentu
saja aku menyayayanginya,” kata Rena riang (menghadap Nao kembali).
Nao terlihat lega mengetahuinya,
sehingga Rena bertanya balik, apa Ibu lega? Sementara Nao bingung dengan
pertanyaan Rena, Rena menoleh menurunkan pandangan ke arah lain. Ia kemudian
segera berkata dengan senyuman, ia tak akan bolos kelas besok. Eh. Nao
mengangguk pelan sekali, membalas senyum Rena.
Soo Jin masuk dan duduk di samping bed Hye Na, memanggilnya. Hye Na menoleh lemah menanyakan apa Bu Song Ye Eun sudah pergi. Begitu Soo Jin mengangguk mengiyakan, barulah Hye Na duduk. Dengan wajah pucat ia berkata kalau bu guru itu (Bu Song) aneh. Hye Na bilang padanya kalau ia tersandung tangga, namun Bu Song malah mengambil fotonya. Soo Jin reflek ingin tahu, di mana, bagian mana yang dijepret tadi oleh Bu Song. (Detail) Hye Na reflek mundur. Bertanya balik apa gurunya yang ini juga suka melihat bekas luka orang lain. (Woah)
Soo Jin kemudian menarik roknya, memperlihatkan lututnya yang juga terluka. Ia tersandung tangga pula. Hye Na melihat seksama. "Apa sakit? Apa Ibu menangis?" Soo Jin menjawab, sedikit. Sehingga Hye Na balas berkata, ia tidak. Di saat-saat seperti itu, menurutnya Soo Jin harus memikirkan hal-hal yang disukai. Maka ia akan berhenti menangis. Soo Jin mengerti.
Hye Na bercerita lagi kalau Bu Song benar-benar aneh. Bu Song terus bertanya pada dirinya, apa ia menyukai ibunya. Hye Na menjawab, tentu saja ia sangat menyukai ibunya. Mendengar jawaban ini, mata Soo Jin berkedip-kedip. Tampak sedih namun ia mengangguk paham. Hye Na tersenyum manis sekali, menanyakan apa Soo Jin lega? (Ekspresi Soo Jin sungguh tak terkatakan, seperti terkejut tipis. Entah)
Adegan berikutnya ada di part 4 versi Jepang. Hye Na yang kelaparan malam itu, membuka snack dan membuat sedikit suara dari kerja kerasnya pada bungkus plastik tersebut. Seol Ak, nama pacar ibu Hye Na mengingatkan Hye Na, apa yang pernah ia katakan tentang anak yang membuat keributan? Hye Na justru menjawab, tapi paman, kita di lantai satu. Seol Ak jadi tertawa kecil. Hye Na jikutan meringis. (Saya mulanya nggak tahu arti lantai satu, tapi berikutnya akan dijelaskan. Mengenai Seol Ak tidak dijelaskan sejelas di versi Korea. Di versi Jepang ia lebih pendiam dan sekilas pandang saja di awal episode-tidak sampai akhir)
Keesokan harinya Rena malah absen.
Dan setelah jam mengajarnya habis, di kantor Nao mendengar Bu Miura berhadapan
dengan petinggi sekolah, bercerita soal Rena yang terlihat duduk di depan
rumahnya di hari bersalju. Bu Miura menduga Rena mendapat perlakuan kasar,
entah dari ibu atau dari pacar ibunya.
Petinggi sekolah tak ingin Bu
Miura langsung menyimpulkan begitu. Ia menenangkan bu Miura. Memintanya
memverifikasi dulu. Bu Miura nggak perlu bertanya kesediaan Nao sebelum berkata
mengenai rencananya pergi ke rumah Rena setelah ini. Haha. Nao terkejut.
Bu Miura mengetuk pintu rumah
keluarga Michiki. Memanggil-manggil Ibu. Namun karena tak mendengar balasan
apapun dari dalam, Bu Miura memutuskan pergi.
Bu Song mengetuk pintu rumah Hye Na, memanggilnya dari luar., apa Hye Na ada di rumah.
Tak berapa lama berselang, mereka
melihat Rena dengan penutup mata kiri dan ibunya pulang. Bu Miura menjelaskan
alasan kedatangannya ke sana pada Ibu. Ia memperkenalkan diri dari SD Maruyama,
datang untuk mengecek Rena yang tak absen hari ini. (Sementara Bu Miura
berbicara pada Ibu, Rena memandang lurus ke arah Nao) Ibu membalas, tadi ia
menelepon (sekolah) dan berkata Rena demam. Bu Miura membenarkannya, tapi..
Saat akan pulang, Bu Song dan Soo Jin bertemu Hye Na dan ibunya. Bu Song berseru, oh Hye Na-ya! Ia mengenalkan diri kemudian. Percakapan berikutnya sama. Alasan sama, demam. Sampai kata 'tapi'...
Bu Miura lalu berjongkok melihat
Rena. Ada apa dengan matanya? Begitu Rena berbalik ke Ibu, bu Miura merasa
nggak enak, ah.. sakit ya? Maaf.. (Nao memperhatikan sikap Rena ini)
Saat Ibu menyuruh Rena
menjelaskan pada Bu Miura, Rena baru mau bicara. Ia terkena lemparan bola. Ibu
membelai kepala Rena, menambahkan kejadiannya di taman. Gadis malang. Ibu tak
ambil pusing, tahu itu akan membaik. Rena melihat ke arah ibunya yang setelah
mengatakannya meninggalkannya berjalan
mendahuluinya.
Ja Young, ibu Hye Na meminta Hye Na menunjukkannya saja. Dan katakan padanya bagaimana kau terluka. Hye Na lalu melepaskan tangannya dari sang ibu, berani menatap Bu Song. Ia terkena lemparan bola baseball di jalan ini. (Saya lebih ngerti luka di telinga karena bola. Saya nggak bisa bayangin mata Rena yang kena TT.TT Kata-kata Hye Na tentang lokasi lemparan yang jelas di depan rumahnya tentu memang diarahkan agar bisa dideteksi kepolisian. Maksudnya karena versi Korea ini ada peran detektif yang cukup menonjol, jadi dibuatlah skrip seperti ini agar bisa dilacak. Berbeda dengan versi ori yang hanya menyebut 'taman')
Ja Young terdengar sarkastik (makanya saya lebih suka ibu versi ori. Di versi Korea lebih kuat ekspresinya. Tapi saya suka meski demikian suara Ja Young tuh terhitung lembut lho, nggak terlalu kasar atau keras) mengatakan kasihan Hye Na. Hampir kena gendang telinganya pula. Ia tak paham ada orang yang bermain baseball di jalanan daripada di lapangan (mengacu penjelasan saya sebelumnya ya)
Bu Miura tak berhenti. Ia berseru
Rena punya luka (di bagian tubuh) lain. Ibu berhenti dan menghadap kembali pada
Bu Miura. Ia tahu. Rena memang sering jatuh. Bu Miura bertanya lagi, maaf tapi
saya dengar anda tinggal dengan seorang pria. Apa dia akrab dengan Rena?
“Apa maksud Anda?” Ibu heran.
Tak disangka Rena justru memegang
tangan ibunya, berseru mengenai roti (atau bakpao?) dagingnya akan dingin. Ibu
jadi melanjutkan perjalanannya kembali menuju rumah. Rena mengikutinya di
belakang. Ia menunjukkan desahan pada Nao di hadapannya. (Haha. Maaf, saya
nggak paham ekspresi Rena yang begini sejak di UKS)
Bu Miura bilang ke Nao, jangan
lega. Mereka hanya akting. Anak-anak yang dikasari akan menutupinya untuk orang
tua mereka bagaimanapun. Bu Miura pulang dengan masih menyimpan kesal. Nao
sampai nggak sempat menyelesaikan kalimatnya kalau dia sebenarnya tidak.. (lega?
haha).
Seorang pria terlihat mengintip
dari balik jendela rumah Michiki yang separuhnya tertutup tirai. Tapi begitu
Nao melihatnya tak sengaja, pria tersebut langsung menutup tirai. Nao curiga.
Soo Jin juga sempat melihat Seol Ak membuka pintu, mengintipnya dari dalam sebelum menutup jendela kembali karena ketahuan.
Nao dan Bu Miura lalu pergi ke pusat konseling anak Muroran dan memaparkan dugaannya. "Ibunya (Michiki Rena) masih muda sehingga ia menghiraukan kekerasan pacarnya pada Rena, putrinya, karena takut ditinggalkan dan mungkin dikasari."
Tapi pihak pendengar menyelanya, Bu Miura seperti kenal betul situasi Rena (meski dirinya hanya orang luar). Bu Mira jujur menjawab, dia mengutipnya dari buku. Eh. Makin nggak yakinlah pak konsultan. Meski Bu Mira mencemaskan memar-memar di tubuh Rena, konselor tersebut percaya bahwa apa yang dikatakan ibu Rena adalah yang sebenarnya. Rena hanya jatuh.
Konselor akan menyelidikinya namun ia butuh bukti kuat. Inilah yang membuat Bu Miura agak kecewa saat ia kembali ke ruang guru lagi.
Bu Song dan Soo Jin pergi ke suatu tempat. Di sana ada seorang pria dan wanita. Si pria tampak melihat-lihat foto bekas luka Hye Na, sepertinya dari ponsel Bu Song. Pria tersebut kemudian bertanya apa yang dikatakan Hye Na. Begitulah Bu Song menceritakan pula alasan Hye Na yang bilang tersandung di tangga. Mustahil, bukan? Nggak bisa luka begitu karena tersandung. Bu Song bahkan menoleh ke Soo Jin di sebelahnya. Ia melanjutkan kalau ia percaya Hye Na (ia menyebut Hye Na dengan gadis kecil) itu berbohong.
Si pria menanggapi, ibunya juga bilang demikian. Bu Song gemas. Ia yakin ibunya itu yang menyuruhnya bicara hal yang sama. Si pria barulah memutuskan untuk menindaklanjuti dengan mengajukan permintaan beberapa petugas untuk mengunjungi Hye Na dan ibunya di rumah. Setelah itu mereka akan dapat mengerti situasinya..
Bu Song tak sabar, lalu apa?
Si pria menjawab, sebenarnya meski seorang anak memiliki luka-luka seperti ini dan orang tua serta si anak mengatakan itu karena tersandung atau terbentur, nggak ada yang bisa mereka lakukan. Makanya tugas mereka adalah mendatangi Ibu dan Hye Na untuk memastikan Hye Na aman di sana, kalau perlu mereka pun akan bekerja sama dengan polisi sebagai peringatan keras. Mereka bahkan akan memperhatikan selama 3 sampai 6 bulan dengan cara ini.
(Kata-kata Bu Song berikutnya nendang banget dan jadi kunci sih buat saya pribadi tentang drama ini) "Tidakkah kita perlu mengeluarkan anak itu dari sana segera?" Sebab menurutnya, Hye Na tak hanya tinggal dengan ibunya, tapi juga pria. Apa mereka pikir, gendang telinga Hye Na hampir pecah karena ia dipukul ibunya? sergah Bu Song.
(Namun) "Di Korea, otoritas orang tua sangat penting." (versi ini lebih detail) Tidak bisa dihiraukan berdasarkan hukum. Apalagi sampai masuk dan menginterogasi rumah. Sungguh mustahil mengeluarkan paksa anak dari rumahnya. Bu Song menghela nafas tak percaya. Bisa apa lagi ia kalau sudah begini.
Polisi benar datang malam itu memastikan Hye Na baik-baik saja. Hye Na yang masih ngantuk setelah sempat tidur di sebuah koper besar yang ia resleting sendiri dari dalam, jadi berhadapan dengan pertanyaan polisi yang sama dengan bu guru tadi. Ja Young tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Tapi ia tetap kuat. Ia tak suka polisi mengancam Hye Na agar tak berbohong karena mereka akan menyelidiki semua CCTV.
Seperginya polisi dari sana, Ja Young berbicara dengan Seol Ak yang memainkan bola baseballnya, memintanya meninggalkan Hye Na. Ia sebelumnya minta maaf karena ia yang punya anak dan Seol Ak sudah mau mengerti selama ini, tapi cuma itu permintaannya. Ia tidak ingin keadaan ajdi sulit karena orang-orang mencurigai mereka. Ja Young sampai mengucapkan usulan membawa Hye Na ke panti asuhan atau semacamnya.. (Hye Na terkesiap)
Seol Ak seperti tak suka usulan itu. Ia melempar keras bolanya dan tertunduk lalu meninggalkan Ja Young. Ja Young menangis memeluk lututnya. Hye Na datang menyentuh pundak ibunya, meminta maaf (SIGH. Dalem scene ini!) namun Ja Young menolaknya. Malah menyuruh Hye Na pergi ke tempat yang tak terlihat olehnya.
Hye Na mengurung diri kembali di dalam koper bersama Jjing, hamsternya. Bernyanyi pelan dari dalam sana.
"Bukannya dia masih menunjukkan rasa hormatnya pada ibunya?"
"Itu karena dialah satu-satunya orang, tempat ia (Rena) bisa bersandar." Bu Miura menganggap Rena tak punya pilihan lain selain melakukan itu dan menyenangkan ibunya.
Petinggi sekolah juga menyarankan agar Bu Miura mengikuti saran konselor saja. Jangan tergesa.
Bu Miura nggak habis pikir. Konselor, polisi (eh? di sini polisi disebut saja. Di versi Korea nggak. Ada scenenya), bahkan guru-guru, kenapa tak ada seorangpun yang mencoba membantunya? (Oke, pertanyaan yang sama dari banyak orang soal kekerasan pada anak?) Bu Miura berencana datang kembali ke konselor besok, tapi ia ingat ia akan sibuk. Bu Miura sadar setelah meletakkan buku mengenai kecantikan pengantin wanita di mejanya. Ia tersenyum, mencangklong tasnya pulang. (Saya lebih suka versi Korea yang memperlihatkan cemasnya ibu guru Song) Sementara Nao teringat kembali tentang Rena yang menutupi mata diperbannya dan pria di balik jendela.
"Aku dengar anak itu cukup patuh pada ibunya."
"Itu karena hanya ibunya satu-satunya yang ia bisa percaya. Jadi anak tersebut tak punya pilihan selain menempel padanya."
Petinggi sekolah juga sudah dengar dan meminta bantuan dari komisi pelayanan perlindungan anak. Masalah ini harus ditangani serius mengingat nama si anak, keluarganya, dan pihak sekolah, juga berada dalam satu garis. Nggak bisa orang luar terlalu ikut campururusan keluarga lain. Kepala sekolah sudah diberitahu pula kok.
Bu Song menunjukkan kekesalannya, meluapkan pada Soo Jin di sebelahnya. Ia nggak bisa percaya pada sekolah dan polisi. Jika mereka semua hanya duduk dan tak melakukan apa-apa, bukannya mereka seperti membenarkan KDRT?
Soo Jin menjawab kalau mereka sebaiknya mendengar lebih banyak apa yang Hye Na katakan. Ia mengatakan semua itu karena takut menghianati ibunya, satu-satunya yang punya hubungan darah dengannya. Dia takut dan malu mengatakan yang sejujurnya pada orang lain. Dia takut juga akan dikirim ke tempat yang penuh dengan orang asing. (Soo Jin memosisikan dirinya sebagai Hye Na. Pemikiran yang ia keluarkan yang tak disampaikan di versi ori)
Bu Song tak puas dengan jawaban Soo Jin, sampai kapan ia melihat dan membiarkan keadaan ini? Soo Jin seperti berkata itu masalah orang lain dan mempertanyakan Soo Jin yang tak ingin jadi guru. Menurut Bu Song, menjadi guru berarti harus mengambil tanggung jawab yang mungkin sulit dan merepotkan. "Anda sungguh berpikir saya ingin melakukan hal ini?" (Bu Song merasa ini sudah kewajibannya, nggak bisa ia acuhkan)
Bu Song bersiap pulang sambil mengutarakan rencananya menikah minggu depan sehingga tak punya waktu mendatangi semua tempat (berusaha untuk Hye Na). Ia tak lupa pamit sebelum pergi.
Soo Jin sampai di rumahnya dan memikirkan perkataan Hye Na di UKS. Tentang ia yang menyukai ibunya juga tatapan Hye Na padanya di depan rumah.
Soo Jin mengenyahkan pemikiran ini dengan membuka info soal laboratorium penelitian di Islandia.
Di versi ori, akan ada cerita Nao yang juga berencana pindah lab..
Selanjutnya: Review JDorama Mother (2010) Episode 1 Part 4
Selanjutnya: Review JDorama Mother (2010) Episode 1 Part 4
0 Response to "Review Jdorama Mother (2010) - Compared to Kdrama Call Me Mother (2018) Episode 1 Part 3"
Post a Comment