Review Jdorama Mother (2010) - Compared to Kdrama Call Me Mother (2018) Episode 1 Part 4

Not allowed to copy and repost these Little Thing's (ndyra.blogspot.com) posts to other site. Take out infos and links with credit. 




Saya nggak tahu sampai kapan bertahan bikin recap begini haha. Bukan tipe saya banget nyeritain detail runut dan terlebih ada drama yang menarik perhatian sebentar lagi. Plus mulai sibuk juga jadi kayaknya mau ngusahain selese episode 1 dulu sih.

Tambah episode sebenarnya nggak akan lebih detail karena cerita Korea lebih panjang dan memang sangat berbeda dengan aslinya yang hanya 11 x 46 menitan. Kalau mau tahu tamatnya sudah ada juga kok di review versi ori. Hanya saja karena lebih banyak dan lebih dalam karakter di versi remake, jadi mungkin akan berbeda juga endingnya.

Credit: NTV and tvN
Engsub by d-addicts

Nao pergi ke tempat. Pria yang dulu mempromosikannya sudah membawa berkas lamaran Nao dan pergi menemui Profesor. Ia berpesan pada Nao untuk menunggunya di laboratoriumnya saja.

Di sana, tak lama datang seorang pria lain. Nao langsung berbalik mengenalkan diri (peneliti) dari Universitas Muroran. Pria ini menyuruh Nao rileks saja dan duduk. Ia tahu Nao adalah seorang guru SD. Ada seorang mahasiswa yang memberitahunya. Ia lalu tanpa basa-basi berkata kemungkinan saudara prianya tadi mungkin menyukai Nao. Ia juga tak sungkan berkata Nao lebih tua darui perkiraannya. HA. Wajah Nao sama risihnya kayak saya ngeliat pria yang nanti akan kita kenal sebagai reporter kasus Nao-Rena.

Soo Jin dapat tawaran dari pusat peneliti burung di Islandia. Ada email masuk dari mereka meminta Soo Jin mengisi biodata untuk dikumpulkan.

Beralih ke adegan ibu Soo Jin yang seorang artis bersama managernya (?).. ini ternyata ganti adegan di part 2. Saya sudah pindah ke sana ya.. 

Soo Jin pergi mengamati burung kembali. Adegan ini justru lebih mirip adegan Nao di part 1 ya? Melihat dengan kamera dekat danau. Saya taruh di part 1  juga.

Sementara di rumah Hye Na, Seol Ak bersiul masuk ke dalam satu demi satu ruangan mencari Hye Na. Nggak tahu sih, saya ngedenger siulannya kayak nada lagu anak-anak main petak umpet? Dia lalu berhasil menemukan Hye Na di bawah meja, meringkuk. Seol Ak memberinya kimbap untuk dimakan. Menyuruhnya cepat makan tapi ia sendiri berkata menjijikkan melihat Hye Na. HA!!! Hye Na lahap makan seperti orang kelaparan karena ia suruh..sigh

Soo Jin makan malam bersama sunbaenya (rekan kerja) dan mereka membicarakan mengenai kepindahan Soo Jin yang mungkin sebentar lagi (di versi Jepang masih di part setelah ini ya. Pas kok setelah ini, kepsek ngucapin selamat ke Nao). Mereka lalu melihat ibu Soo Jin di tv. Haha sunbae cerita kalau dia terbiasa mentraktir Soo Jin karena mengiranya  miskin padahal ibunya mencarinya di tahun pertama. Soo Jin jadi melihat ke tv juga. Ia membenarkan banyak kok ibu yang kaya tapi anaknya miskin. Sunbae meminta Soo Jin untuk makan dengan baik di sana dan jangan sendirian.

Sementara Rena di rumah membuka kulkas, mencari cemilan. Di botol dalam kulkas tersisa sedikit makanan. Ia menghabiskannya. Kemudian saat ia bermaksud memberi makan Suzu, ia melihat bungkus snack di atas meja. Langsung saja berusaha ia buka sekuat tenaga.

Usahanya terhenti saat melihat seorang pria bertelanjang dada dari kamar mandi mendekatinya, masih dengan handuk tersampir di pundaknya meringis. BGM menambah tegang suasana.

Nao sepertinya sudah lama di laboratorium itu. Reporter memberikan sebotol kecil minuman pada Nao. Reporter memprediksi saudara laki-lakinya sedang makan ayam goreng sekarang. Ia mengambil kesempatan ini untuk menanyai Nao, bagaimana pendapatnya soal saudaranya? Nao masih lajang bukan? Punya pemikiran untuk menikah? Kau tampak kaku.. dan seperti membenci para pria.

Sunbae penasaran, apa kau tak pernah merasa sendirian meski sekilas? Apa Soo Jin pernah menyukai seseorang dan ingin bersamanya? Atau pernah sangat kacau karena peduli dengan seseorang?

Siapa yang mau mendengar pertanyaan-pertanyaan begini dari orang tak dikenal? Nao tak perlu banyak waktu untuk beranjak meninggalkannya.

“Apakah saya menyakiti perasaannmu?”

Nao membantah, “Aku tidak..” belum sempat selesai perkataannya, pria yang sebelumnya kembali dan heran si reporter masih di sana. Ia menyuruh reporter pergi. Eh?

Soo Jin tak menjawab.

Malam tiba. Pacar ibu Rena masih bermain ketika ibu Rena sudah pulang dan hendak membuang sampah. Ia merasa aneh Masato, pacarnya bilang keresek besar yang tergeletak di sana adalah sampah tapi mengapa sangat besar dan berat. Ibu Rena sudah mengira jangan-jangan.. namun Masato beralasan itu hanya candaan (membungkus Rena dengan keresek sampah). Ibu Rena mengungkapkan ketidaksukaannya. Ia tak mau lebih banyak rumor berkembang di luar sana. Ia cepat-cepat membuka keresek tersebut.

Ja Young pulang kerja dan melihat ada keresek besar hitam di belakang kursi tamu. Settingnya sama dengan yang ori. Pertanyaan Ja Young juga sama menanyakan apa itu. Tapi ia kaget (pas juga ternyata kalau dibuat begini) saat membukanya. Seol Ak terkekeh.

Entah kenapa Rena malah bercerita mereka hanya bermain petak umpet dan ia berakhir terjebak di sana. Ibu Rena lalu menghampiri Masato. Bersimpuh di sampingnya tak tahu membicarakan apa. Rena yang mendapat kode pandangan mata dari ibunya dan ingat ia tadi pagi diberi uang saku, pamit. Ia mau keluar.

Hye Na juga sama alasannya, bermain petak umpet dan tak bisa keluar. Namun Ja Young kesal karena buatnya kejjutan jail seperti itu menakutkan (saya juga suka perkataan ini. Jelas). Bagaimana kalau ada yang datang dan melihat? Ja Young memberi pamflet pada Hye Na, memintanya pergi (sebentar. Ah.. jadi dari Ja Young pamflet itu. Dari sini saya kira Ja Young kerja sebagai penyebar pamflet hehe)

Nao pulang diantar sang pria. Di lampu merah, mereka berhenti sebentar dan pria itu memecah kesunyian dengan bertanya mengenai burung di danau Utonai. Nao tersenyum mengiyakan kalau di sana masih ada banyak burung, sekitar 30.000. Woah..

Perhatian Nao sesaat teralihkan oleh gadis cilik berjaket merah dan syal biru muda di dekat kotak pos. Nao kembali cemas. Ia tak menghiraukan perkataan si pria yang bercerita bagaimana Profesor terkesan dengan tesis Nao dan optimismenya soal Nao yang akan bergabung.

Rena sempat berjongkok dan mengintip Suzu di balik selimut yang menutupi kandangnya sebelum Nao nekat menyebrang tanpa lihat kiri-kanan bahkan mendapat klakson memperingatinya. Rena berseru riang memanggil Nao. Nao gemas, memegangi Rena, mengatakan tegas kalau keinginan Rena tak akan jadi kenyataan dengan kepercayaan yang mustahil begitu (ada di part sebelumnya tentang melihat perubahan warna lingkaran kotak pos? dan memohon saat itu akan mengabulkan keinginan. Sebenarnya menurut saya, Nao hanya ingin Rena berhenti keliaran malam)

Soo Jin pulang dan menemukan Hye Na di pinggir dermaga (?). Tempat yang sama dengan kafe mereka dulu. Kelihatan di scene. Soo Jin berseru kalau anak-anak tak boleh di luar malam-malam begitu.

Melihat Rena hanya terdiam, Nao mendesah. Rena sudah ada di rumahnya kini. Ia menelepon bu Miura (?) mengabarkan Rena di rumahnya dan ia tak tahu alasannya. Tanyakan saja pada dirinya (Rena?) katanya. Ia akan menunggu.

Dan wah..wah... bahkan ada biskuit bulat (bedanya agak tipis dan bentuknya bunga) juga di sini. Cuma bedanya, Soo Jin nggak bisa tersambung dengan orang di seberang teleponnya. Ibu Hye Na yang ternyata ia telepon.

Rena di depan meja memandang ingin pada tumpukan bungkusan biskuit di keranjang. Nao belum menyadarinya dan berkata, kalau ada yang ingin Rena ajak bicara nanti bu Miura akan datang karena ia mencemaskan Rena.

Begitu ia bertanya pada Rena dan Rena menanyakan pendapat Nao, bolehkah ia memberi makanan itu pada Suzu yang lapar? Rena barulah mengerti dan mengizinkannya. Rena memotong separuh untuk dimasukkan ke kandang Suzu, sementara melihat separuhnya lagi, “..ia tak bisa makan semuanya, jadi biar aku membantunya menghabiskannya.” Rena memakan biskuit tersebut dengan lahap seperti Suzu. Hmmmm

Hye Na memandangi bungkusan biskuit yang terbuka dengan pandangan ingin, tapi ia meminta izin untuk memberikannya pada Jjing, hamsternya karena lapar. Hye Na memotong secuil biskuit untuk dimasukkan ke kandang Jjing. Ia berkata kemudian, masih ada sisa.. haruskah ia memakannya? Soo Jin seperti mendapat kode, ia pergi ke dapur. Sepeninggalnya, Hye Na memakan sisa biskuit dengan cepat.

Nao di dapur mengocok telur mempersiapkan makan malam mereka ketika Rena melihat-lihat koleksi buku Nao dan berceletuk seperti perpustakaan. Nao menanggapi semua buku tersebut tentang burung, sehingga Rena berkata “Perpustakaan burung”. Hihi.

Hye Na melihat Russian dolls dan menyentuh kepalanya, do re mi fa so la si do.. karena boneka itu berjajar urut sesuai tingginya. Hye Na juga melihat buku Soo Jin dan berceletuk kalau ia tak pandai membaca buku. Ketika Soo Jin bertanya kenapa, Hye Na menjawab sebab ia tak cepat mengeja. Sehingga ia selalu belajar. Hye Na mengatakannya dengan menunjukkan pamflet yang ia bawa.

Ada sesuatu yang menarik Rena di rak itu dan ia mengambilnya untuk ditanyakan pada Nao “Kore.. nani?”

Nao menjawab ia menggunakannya untuk menghitung burung. “Sebagai bagian dari pekerjaan Bu Guru?” Nao menjawab lagi sekadarya, ya begitulah..

Makanan mereka kemudian sudah siap. Rena semangat berkata ‘itadaki..’ sampai ia sadar bu gurunya belum mempersilahkannya makan sebagai tuan rumah. Nao tentu mengizinkannya makan duluan. Rena kembali menyuarakan lantang ‘itadakimasu’nya^^

Rena mengambil gulungan telur yang dibuat Nao dan memuji Nao pintar memasak. Hehe semua orang bisa memasaknya kata Nao. Rena kemudian bercerita ibunya juga pandai memasak makanan yang disukainya.

Soo Jin membuat masakan seperti kare? Sayur dengan kuah kental merah, bukan cap jay hehe. Hye Na memulai suapan pertamanya dengan antusias. Ia berkata, ibunya juga pandai memasak.

Saat Nao penasaran apa yang dimasak ibu Rena memangnya, Rena seketika terdiam. Berpikir.. spaghetti..dan..sesuatu seperti kerang..saus daging..dan..bayam..

“Apa yang ia mahir memasaknya?” tanya Soo Jin. Hye Na perlu waktu sedikit sebelum menjawab kata yang tadi dibacanya di pamflet. Seperti yang ia bilang sebelumnya pada Suzu saat ia latihan, ia pintar mengingat nama makanan. Nasi kare, nasi dibungkus telur (omurice), donkatsu..juga tteokpokki, rabokki.

Nao memotongnya. Ia minta maaf. Ia juga bilang senang kalau ibu Rena pintar memasak. Rena mengiyakan tapi kepalanya tertoleh ke arah lain.

Soo Jin berkata Hye Na pasti senang ibunya pintar memasak. Sama dengan versi ori. Hanya di sini Hye Na tampak senang berkata ibunya juga cantik.

Rena bertanya balik soal ibu Nao. Apakah pintar memasak juga? Nao mengangguk lemah. Rena mengungkapkan perkiraannya, kalau ibunya pintar memasak, anaknya juga demikian kan? Nao tak berpikiran sama.

Rena menanyakan yang lain tentang apakah ibu Nao cantik? Seperti apa dia? Seperti Nao? Apakah rambutnya panjang atau pendek?

Nao seperti tak mau menjawab. Berkata tak ingat. Rena jadi meletakkan sumpitnya, “apakah bu guru tak ingat wajah ibu bu Guru?”

“Aku sudah tak melihatnya belakangan ini?”

“Kenapa?”

“Aku tak menyukainya.” Mendengarnya Rena menoleh ke arah lain lagi.

Soo Jin jadi membicarakan ibunya karena Hye Na mengungkit masalah ia yang tak memakai make up. Hmmm Soo Jin merasa ibunya sangat pandai memakai riasan dan merasa ia tak akan bisa menyamainya. Hye Na jadi nyeletuk, Ibu tak mau seperti ibunya Ibu? Soo Jin mengiyakan. Saat Hye bertanya tentang kemungkinan ia yang tak menyukainya ibunya, Soo Jin juga mengangguk lemah.

Giliran Nao yang bertanya, itu hamster kan? Ibumu yang membelikannya? Rena membenarkan semua. Iya, beberapa saat lalu.

Suasana kembali sepi dan Nao berkata jujur tak terbiasa dengan ini. Ia biasanya makan sendiri dan ia tak tahu harus berkata apa (di situasi begini). Rena mengusulkan untuk membicarakan kesukaan mereka saja. Membicarakan itu membuatnya senang.

Nao bilang tak ada yang ia sukai (menghindar nih) tapi dengan cepat pula Rena menanggapinya. Ia tahu satu hal yang bu guru sukai. Ia tersenyum mengatakannya kemudian menoleh ke belakang. Sehelai bulu di kotak pensil.

Hye Na bertanya kembali, lalu siapa yang Ibu guru sukai? Soo Jin tersenyum, burung..

Nao lalu membacakan sebuah buku, “Meski burung bermigrasi ribuan kilometer, mereka pasti bisa menemukan jalan pulang.”

“Jalan di langit?” Hehe pinter..

“Tidak ada batu petunjuk jalan atau peta, tapi mereka tetap tiba di tujuan. Di danau Utonai ada emberiza bermuka hitam, cuckoo (semacam burung tekukur), dan trushes (semacam burung berkicau)” Rena menoleh pada foto trushes di belakang mereka. Rena mengambilnya.

“Di musim panas, kau bisa melihat greenshanks (burung berkaki agak panjang yang biasanya ditemukan di danau) dan kentish plovers (seperti burung kutilang, juga berkembang biak dekat perairan atau tundra).” Rena mengulang pengucapannya. Nao melanjutkan, di waktu seperti ini kau bisa melihat angsa dan bebek liar. Nao mengambil bulu di tabung (atau gelas) pensilnya dan bercerita kalau itu dari burung Siberia. Nao juga mengabarkan soal perjalanan yang ditempuh burung Siberia itu sejauh 3500 km.

Rena kagum mereka terbang dengan bulu yang ia pegang sekarang. Ia berniat ingin melihat mereka bermigrasi. (baru sadar, dimulai dari membicarakan favorit dan perakapan mereka cukup mengalir :)) Nao lalu menawarkan bagaimana kalau ke sana besok pagi? Ia akan menyetir. Nao bersemangat sampai mengambilkan selimut karena keadaan besok akan sangat dingin.

Hye Na mengeja, membaca buku mengenai burung bermigrasi ke Mesir. Soo Jin menjelaskan kalau burung bermigrasi terbang melewati samudera yang bisa berkilo-kilometer jauh jaraknya, tetap tak akan tersesat. Hujan atu bersalju.. siang atau malam..mereka terbang di atas samudera yang ganas tanpa peta atau petunjuk tapi tetap sampai tujuan. Sebab mereka punya semuanya di kepala mereka.

Hye Na bertanya pendapat Soo Jin soal terbang demikian jauhnya. Soo Jin jadi menawari, apa Hye Na mau melihatnya? Ia ingin berkata besok pagi mungkin bisa karena malam seperti sekarang terlalu dingin..tapi Hye Na memotongnya..

Namun Rena tiba-tiba berkata ibunya akan khawatir. Ia mungkin akan pergi lain kali. Rena meminta maaf. Pas dengan kedatangan bu Miura ke sana menjemput Rena. Sayang, Rena menjatuhkan notesnya.

Nao mengantar kepergian Rena yang berjalan pulang dengan lambat. Ia berbalik ke arah Nao. Bu Miura yang menyadarinya berkata pada Rena kalau ia yang akan minta maaf pada Ibu Rena. Mereka kembali melanutkan perjalanan.

Hye Na bukankah ibunya akan cemas kalau begitu. Tak lama kemudian, ponsel Soo Jin berbunyi. Ja Young di rumah. Soo Jin mengantar Hye Na pulang dengan mobilnya. Hye Na sendiri tak sadar notesnya terjatuh dari jaketnya saat ia akan pakai. Hye Na yang melihat Seol Ak berpapasan dengan mobil mereka, menunduk. Seol Ak memang melihat ke arah Soo Jin dan Soo Jin jadi melihat dengan kaca tengah mobil ke arah Soo Jin. Ia sadar sesuatu.

Berkelebat berbagai gambar gelap tak jelas. Berjatuhan terserak di lantai biji-bijian, suara Hye Na minta maaf(?). Apakah ini bayangan Soo Jin saja?

Soo Jin tak langsung kembali ke rumah, malah ke tempat sunbaenya masih berada di kantor. Untuk pertama kalinya meminta sunbaenya melakukan sesuatu untuknya, mengecek Hye Na sepeninggal dirinya pergi nanti. Apa Hye Na masuk sekolah atau sampai di rumah dengan aman. Ia sangat cemas sampai rasanya mau marah. Terpicu tatapan amta Seol Ak yang tadi dilihatnya. Yang familiar dengan kesan penghancuran wanita dan anak(?). Soo Jin punya pengalaman apa???

Haha 40 menit versi ori bisa ditarik menjadi 50 menit versi remake. Sudah kelihatan dari sini mengapa 10 menit akhir episode ori bisa ada di episode 2 versi remake^^

Nao kembali ke dalam rumah, menemukan notes Rena tertinggal. Sebuah panggilan telepon juga terdengar kemudian. (Nggak apa-apa ya telepon malem-malem soal pekerjaan?)   

Kalau Soo Jin penerimaannya tidak diperlihatkan di adegan. Adegan berikutnya kedua versi sama. Mereka diucapi selamat oleh kepsek. Start part berikutnya dari adegan ini.

Selanjutnya: Review Jdorama Mother Episode 1 Part 5

Artikel terkait

Comments