Review Korean Drama My Golden Life Episode 4 (Part 2)

Prepare yourself for deeper characters develepoment. I start to feel sympathy to them. 


Karena harus ke tempat kakaknya dulu, Hyuk terlambat menemui Ji An 5 menit. Tapi Ji An bukannya menunggunya di kafe tempat mereka janjian. Ia mengajak Hyuk ke tempat lain. Minimarket favoritnya untuk beli bir kaleng kesukaannya. Ji An lebih suka di sana. Ia bisa mendapat dua kaleng dengan harga murah. Hehe Ji An mengaku memang pelit. 

Ji An kemudian nyeletuk, bertanya soal orang tua kandung kaya yang tiba-tiba muncul di kehidupan mereka. Bagaimana menurut Hyuk? Hyuk coba berpikir sebaliknya, bagaimana kalau yang muncul tiba-tiba adalah orang tua kandung yang miskin? 


Orang-orang sekarang begitu peduli dengan hubungan darah. Kau harusnya tinggal bersama jika kau keluarga. Jika kau pindah ke keluarga itu hanya demi uang, bagaimana bisa kau menyebutnya orang tua? Tidak, kan? Di sinilah Ji An mengatakan bingo! Ia tertegun seperti menyadari sesuatu. Saya nggak bisa baca pikirannya wkwk. Tapi sepertinya ia sudah yakin dengan keputusannya.

Ayah Ji An sendiri diajak makan siang di restoran, namun Ayah memilih makan makanan gratis yang diberikan bos mereka. Ia masih terus dibujuk hingga ia ingat apa yang dikatakan putrinya. Dia tidak akan makan makanan enak itu hanya demi 10 detik. Toh semuanya sama saja di perut. Dan apa? Tidak akan ada yang menghargainya dengan hemat begini? Tidak...keluarganya akan menghargainya. Inilah harga diri seorang Ayah. Bahkan ada yang pernah dibawain makan siang Ayah dari kantor? Me.

Perayaan ke-4 tahun Ji Tae dan Soo Ah pacaran. Soo Ah pacaran. Soo Ah nebak dia mau diajak ke konser jadi dandan cantik banget. Tapi tebak, Ji Tae malah memintanya menunggunya di 'rumah'. Ia lupa. Haha.

Ji Tae yang melihat Soo Ah sangat cantik, menggodanya yang mengiranya akan mengajak Soo Ah ke konser. How cute they are. Mereka sudah hafal satu sama lain. Soo Ah ngambek. Apa maksud Ji Tae , katanya. 'Rumah' yang dimaksud Ji Tae adalah kafe komik. Mmmm cmiiw namanya apa. Jadi mereka bisa baca komik sambil minum atau makan makanan ringan. Sepertinya mereka berdua sering ke sana karena pemilik sampai mengenal Soo Ah dan bahkan Ji Tae punya 'kamar' sendiri...

Soo Ah kesal, kuenya bahkan kecil dan tak bagus. Ji Tae nggak terima. Kuenya enak lho, dibuat dari bahan bahan kesukaan Soo Ah. Aw, Ji Tae sendiri yang membuatnya? Haha, meski nggak terlalu bagus, Soo Ah termasuk kagum dengan pacarnya itu. Ji Tae menyandarkan kepalanya di bahu Soo Ah, mengaku lelah. Ia menyuruh Soo Ah tak usah tersentuh. Soo Ah mudah sekali tersentuh dengan hal-hal kecil. Ia lalu mengambil kain yang membungkus suatu barang di sampingnya. Kulkas kosmetik yang diinginkan Soo Ah. Ini sisi lain Ji Tae yang terungkap. Dia manis banget ternyata kalau sama pacar TT.TT

Soo Ah senang, memeluk pacarnya sebentar. Ia bahkan tidak ingat pernah cerita kalau dia ingin barang itu. Tapi Ji Tae mengingatnya. Di sini saya mulai naruh perhatian ke Ji Tae. Apalagi kata-kata berikutnya...

Soo Ah heran mengapa Ji Tae begini. Bukannya mereka sudah sepakat nggak akan merayakan hari jadian lagi. Ji Tae menjawab kalau waktu mereka bertemu dulu mereka percaya mereka tak akan melewati tahun ketiga. Tapi lihatlah, mereka bahkan sempat merayakan tahun ke-4 mereka jadian.  Dari sanalah ia kepikiran membuat kue. Hanya untuk bersenang-senang. Maklum, mereka sama sekali tak menyinggung soal komitmen berhubungan. Tanpa perayaan jadian dan tanpa masa depan. Soo Ah saja sudah dipanggil ahjumma. Ia sudah berumur tapi belum menikah. 

Ji Tae sebelumnya menggodanya yang tak menikah 4 tahun lalu saat Soo Ah berumur 29. Soo Ah bilang dia akan menikah saat Ji Tae tak menginginkannya pergi. Kapanpun itu. Sigh. Dua orang ini dari poster akan menikah sih. Cuma jalan ke sananya yang saya nggak bisa bayangin. Selama 4 episode mereka penuh senyum. Tapi setelah ini angsty akan menghadang.

Soo Ah terdiam sejenak sebelum akhirnya meniup lilin perayaan mereka sendirian. Ia berujar, yang seperti ini bukan seperti mereka. Ia mengambil semua lilin-lilin itu. Mereka ini saling sayang tapi nggak bisa berjalan lebih jauh. Ji Tae kayaknya masih kepikiran keluarganya yang belum stabil keuangannya. Kalau ia menikah, ia punya dua tugas: menghidupi ortu dan adik-adiknya sendiri plus istri serta anak-anaknya.

Ayah tertidur di tempat kerjanya. Koyo tampak menghiasi bahunya yang sudah renta. Ia minum sesuatu. Obat apa? 

Ayah menelepon istrinya malam itu. Menanyakan anak-anaknya. Ibu menjawab ketus. Anak-anak mereka selalu berjuang setiap hari. Apa yang bisa Ayah lakukan kalau mereka tidak baik memangnya? Ayah jadi bertanya-tanya ada apa. Andai Ayah tahu. Ibu menjawab, ia hanya kasihan pada Ayah yang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya seolah tak tahu kalau mereka sudah berdiri sendiri. Sudah besar. Ngapain ditanyain.

Ayah tersentuh. Istrinya mencemaskannya rupanya hihi. Ibu nggak bisa ngelanjutin obrolan mereka. Ia beralasan sedang memasak. Ah...Ibu...

Ayah menutup teleponnya dengan tersenyum memandangi foto keluarga yang ia jadikan wallpaper ponselnya. Merekalah sumber semangatnya hingga hari ini. 

AND FINALLY WE ARE HERE! Club!!! Di sini tempat Ji Ho kerja kalau malam. Ia mengumpulkan tip dari para pelanggan. Ia sudah tempel harga tip seperti stiker di seragamnya sehingga pelanggan bisa langsung tahu. 0,1 juta namanya? 

Saat ia kembali selesai melayani salah satu pelanggan, ia melihat ke arah tengah, tempat poll dance. Banyak orang berkerumun di sana menyaksikan penampilan seorang wanita seksi. Ia disebut Cinderella, sebab selalu menghilang saat tengah malam. Misterius. Hanya 1 sampai 2 kali datang sebulan tanpa terlihat bersama pria. Ji Ho tak mempedulikannya. Cinderella itu pasti tak akan memberinya tip hehe. Ini yang disebut di deskripsi karakter mengenai Ji Ho yang akan melakukan apapun demi uang. Ia tak tertarik dengan lainnya. Ji Ho sudah mau beranjak saat ia melihat wajah Cinderella. Kenapa? Kenal? Familiar? Atau tertarik? Masih harus nonton episode berikutnya kalau mau tahu. Dan saya suka banget sama Hyun Soo di sini! Give me more, SWnim...

Baju, wig, dan sepatu sudah dimasukkan tas dan dibuang oleh supir Seo Hyun dekat Club. Ialah sang Cinderella. Ia bayar sang supir dengan semua cek dalam dompetnya. Seo Hyun memperbaiki make-upnya, bertanya mengenai orang tuanya yang sudah dikabari alasannya yang masih latihan. Apakah mereka percaya?

Supir menjawab sekenanya, hanya mengiyakan. Seo Hyun kesal. Tak ada kata lain yang bisa diucapkannya? Kenapa? Seo Hyun seolah butuh teman cerita. Saya nggak sabar saat dia ketemu Ji Ho nanti. Apa Ji Ho akan jadi sopirnya? Melihat bagaimana Seo Hyun justru memberi tip supir dengan cek, sepertinya Ji Ho bakal mau banget. Kalau iya, apa ia akan bertemu dengan keluarga Ji An yang baru dengan cara ini? Entah bagaimana mereka akan bertemu kemudian. Saya hanya menebak. 

Sesampai Seo Hyun di rumah, Nyonya No masih di ruang tamu belum tidur. Ia kira akan dimarahi maka ia terlebih dulu membuat alasan. Namun Nyonya No hanya menyuruh Seo Hyun langsung ke kamarnya saja. Nyonya No memikirkan Ji An sambil memeluk sebuah boeka teddy bear kecil. Seo Hyun memperhatikannya. Ji An ini anak paling disayang...padahal Seo Hyun seperti kurang perhatian.

Hari berganti. Ji An sudah kerja di tempat baru, sebuah mall. Ketika ia lagi sibuk-sibuknya melayani pelanggan, Do Kyung meneleponnya. Do Kyung yang teleponnya nggak diangkat lagi mengeluarkan kekesalannya. Ia lagi makan dengan sekretaris Yoo sobatnya, makin kesal melihat kotak makan mereka yang nggak sama. Bukankah Do Kyung sudah bilang untuk beli makanan yang sama untuk mereka berdua. Tidak ada diskriminasi di antara mereka ketika mereka hanya berdua. Semuanya sama. Tapi kenapa...

Do Kyung terus mengomel sampai Sekretaris Yoo harus menutupi makanannya dengan tangan. Wkwk sekretaris yang ini lucu juga. Dia nggak mau ludah bosnya tersembur ke makanannya? 😂

Sekretaris Yoo dengan sabar mengatakan kalau baru saja njajan tteokpokki, jadi dia mau makan lebih sedikit. Makanya beda sama punya Do Kyung. Oh...hehe Do Kyung cuma nyengir. Dia nyeritain kekesalannya. Sekretaris Yoo tahu kok. Makan dulu aja. Do Kyung mengiyakannya sambil kembali menekan panggilan ke Ji An.

57 KALI?! Ji An nggak percaya. Berikan saja nomer rekeningnya kenapa sih? Kalau terus-terusan seperti itu dia yang akan menuntut Do Kyung. Perbuatan tidak menyenangkan? Hehe...

Ji An akan mengantar barang yang dibeli pelanggan ke bagasi mobil, tapi sebuah mobil pelanggan lain menghalanginya. Mereka memarkir mobilnya terlalu mepet, akibatnya Ji An tak bisa lewat. Sementara yang di dalam mobil hanya ada ibu pemilik mobil yang tak bisa memindahkannya. Ji An pun berusaha melewati kedua mobil yang seakan menempel itu dengan susah payah. Ia tak sengaja mengumpat keras.

Nyonya di dalam mobil belakangnya sontak marah. Keluar mobil ia menegur Ji An yang tak sopan. Ji An berkata, ia bukannya mengatai Nyonya. Ia mengatai penelepon yang berulang kali mengganggunya. Sang Nyonya lantas meminta bukti, mana telepon Ji An. Malangnya, ia hanya melihat pesan Ji An ke Ibu yang bernada akrab, tapi disalah artikan tidak sopan oleh Nyonya. Lah. Jadi Ji An mengumpat siapa?

Nyonya tak suka pula Ji An yang bisa bohong dengan baik. Bahkan tak terbaca olehnya. Puteri Nyonya kembali. Mendengar cerita ibunya yang salah paham, ia semakin memperkeruh keadaan. Ji An sudah minta maaf tapi Nyonya memintanya berlutut. Orang-orang mulai berkerumun melihat mereka. 

Puterinya mempertegas kalau mereka sudah belanja banyak di mall itu. Ji An mempererat pegangannya pada barang yang ia bawa. Ia menguatkan diri untuk menurunkan harga dirinya. Ji Ho yang kebetulan melihatnya berlutut, apa daya tak bisa menghampiri kakaknya. Ia memegangi papan namanya. Sangat marah pada dirinya sendiri yang bahkan hanya bisa melihat kakaknya kembali pulang dari jauh. Ji An dan seniornya dipecat karena insiden itu. 

Nafas Ji Ho berat sekali. Ia menghapus air matanya yang belum turun. Ji Ho-ya...

"Ini tergantung siapa yang salah..."

"Tidakkah mereka berlebihan? Terlalu berlebihan..."

"Mengapa mereka membuatnya berlutut?"

"Bukankah itu terlalu kasar?"

"Siapa yang salah?"

Tanggapan orang-orang ini saat melihat Ji An sangat masuk akal. Tapi lihatlah, mereka yang disinggung tak terganggu sedikitpun. Untuk mereka hal wajar mungkin. Saya sih nggak ngeliat perbedaan itu di negeri sendiri, tapi apa iya di sana juga segitunya? Saya penasaran karena katanya drama ini related story. Bagian yang ini juga atau tentang perjuangan mereka?

Do Kyung menanyakan alamat Ji Soo. Ia mau bertemu Ji An langsung. 

Ji An berjalan pulang dengan memaksakan senyumnya. Ia tak boleh memperlihatkan kesedihannya di rumah. Tapi di tengah jalan Do Kyung menghalanginya. Ji An jadi kesal lagi. Do Kyung hanya ingin meluruskan masalah dan mengatakan yang ia ingin katakan. Ia minta maaf soal ia yang tak membayar upah Ji An di Yangpyeong.

Ji An menyela. Lalu berapa yang ia pinjam sekarang. Mendengarnya giliran Do Kyung yang kesal. Dia jauh-jauh ke sini menemui Ji An tapi begitukah Ji An menerima maafnya? Wajar Ji An begitu. Apakah ia harus menerima permintaan maaf dari seorang yang bahkan membiarkan berjalan di bawah hujan selama 2 jam (ha! selama itu?), memaksanya naik taksi dengan biaya tunai, tak tahu Ji An bukanlah orang yang sanggup memiliki kartu kredit.

Do Kyung mengiyakannya. Iya, harus. Apalagi yang bisa dilakukan Do Kyung. Ia sendiri juga tak sengaja melakukannya. Ia benar-benar lupa soal itu dan sekarang ia minta maaf langsung. Do Kyung berkata lagi ia sudah menganggap hutang Ji An tak ada, tapi karena JI An bersikeras ingin membayarnya, bagaimana kalau Ji An bayar penuh ganti kerusakan mobilnya.

Ji An terdiam. Benar. Yang Ji An ingin bayar hanyalah nilai kompensasi yang diturunkan nilainya oleh Do Kyung. Bukan biaya ganti rugi penuh. Dulu Ji An sopan sekali saat Do Kyung mengatakan biayanya yang penuh, tapi sekarang ketika Ji An mengira hanya meminjam nilai kecil Ji An begitu keras. Do Kyung melihat tangan Ji An yang gemetar lagi, mengatakan hutang Ji An sudah lunas.

Ji An berasa dipermainkan. Katakan saja di telepon kalau begitu. Do Kyung beralasan, apa Ji An pikir orang kaya menghamburkan uang sesukanya? Tak ada yang menghabiskan uang tanpa alasan atau sebab. Ia meminta Ji An datang ke Yangpyeong supaya Ji An bisa membayar hutangnya dengan menjalankan pekerjaan yang ia berikan. Apakah itu yang harus dikatakan lewat telepon? Tanpa penjelasan dan terimakasih?

Ji An mengerti. Ia meminta maaf. Do Kyung menyindirnya yang kembali rendah hati saat biaya sudah ia turunkan lagi. Ji An tetap ingin membayarnya meski sedikit. Tapi Do Kyung tak terima . Ia tak mau bertemu lagi dengan Ji An. Lupakan, jangan kau berlagak kalau kau tak mau bayar penuh. Do Kyung kembali ke mobilnya. Melaju pergi.   

Angstynya dapet banget di sini. Gimana awalnya Ji An yang marah. Do Kyung dengan sabar memberi pengertian. Kemudian Do Kyung membalik keadaan, menyadarkan Ji An. Do Kyung akhirnya yang memutus percakapan. Karakter lead male yang kuat. Saya nggak tahu apa yang membauatnya jadi anak baek begini. Bahkan mengangkat isu kesamaan derajat? Keluarganya orang berada tapi dia sangat peka soal bermasyarakat. Ia tahu bagaimana harus bersikap dengan orang-orang dan sepertinya dia punya mata yang bagus melihat orang-orang itu. Dia menohok Ji An dengan kata-kata yang sepertinya Ji An merasa kebenarannya. SWnim memilih peran ini untuk Park Shi Hoo? Aktor yang sebelumnya bekerja sama dengannya di Prosecutor Princess...tampaknya akan punya imej bagus lagi.

Ji An menangis. Ia jongkok di jalan menuju rumahnya. Air matanya mengalir deras. Ia mengingat bagaimana Do Kyung dan Ha Jung yang mengatainya pengemis dan rendah diri di hadapan orang lain. Sementara ia juga sempat membela diri. Ji An membela diri di depan pelanggan meski akhirnya berlutut juga, berseteru dengan Do Kyung meski tak punya apa-apa. Melakukan apa yang disuruh untuk jadi pegawai tetap tapi malah memukul Ha Jung yang menebaknya akan memohon pada Ha Jung. Kontra. Saya bisa memahami kalau ini bisa dialami banyak orang seperti Ji An. Nggak aneh. Tapi justru ini yang akhirnya bikin Ji An seolah mengubah mindsetnya. Kalau dia mampu, maka dia akan berbuat seperti orang mampu. Kalau dia memang anak orang kaya, ya kenapa dia harus berpura-pura miskin. Seperti itu yang saya tangkap karena adegan setelahnya mengatakan demikian. 

Ia memutuskan menelepon Nyonya No. Ia ingin meminta uang untuk membayar ganti ruginya pada Do Kyung. 

Nyonya No kecewa putrinya meneleponnya hanya untuk itu.

Pagi baru dengan banyak sarapan di meja. Ada apa? Ji Ho mengambilkan lauk untuk kakaknya. Ia meminta kakaknya makan yang banyak. The swwetness of him. Ji An melihatnya malah meminta maaf. Ji Tae berkata seharusnya Ji An berterimakasih, bukan meminta maaf. Tapi Ji An meminta maaf pada semuanya termasuk Ibu. 

Ji An bilang akan pindah ke keluarga kandungnya. 

Semua terkejut kecuali Ibu.


Di episode selanjutnya ada bocoran soal Ayah yang menemui Ibu dan berkata Ji An tak tahu kebenarannya. Buram. Apakah akan ada bocoran lagi soal masa lalu? Kalau bukan Ji An anak kandung keluarga No, mengapa Ibu mengatakan sebaliknya? Apa motifnya?  Atau selama ini dugaan kita salah. Ji An memang anak kandung Nyonya No?

Mbak Dian sebelumnya juga sempat mikir mengenai kekakuan keluarga No. Do Kyung dan Seo Hyun aja digituin. Dan Nyonya No terlalu sayang sama anaknya yang hilang ini. Kalau Ji An putri Nyonya No dan akan bersatu dengan Do Kyung yang juga putra Nyonya No, apakah bisa? Muncul indikasi Do Kyung bukan putra kandung membuat saya nggak habis pikir, segitunya SWnim bikin cerita ini menjadi ruwet dengan menghadirkan dua rahasia kelahiran haha. Saya aja kayaknya yang kebanyakan mikir. Yang jelas saya nggak suka ada lebih dari satu rahasia kelahiran dalam satu drama. 

Tentang Ji Ho dan Seo Hyun. Mereka di poster keluarga nggak berdekatan karena kalau nanti Ji An dan Do Kyung memang jadi satu keluarga, mereka sepertinya tidak bisa bersatu. Ji Ho adik Ji An sedangkan Seo Hyun adik Do Kyung. Saya nggak bisa ngarep lebih dari sekedar persahabatn :)

Sebelum berakhir, saya mau mengutp perkataan Sang Woo di My Daughter Seo Young, karya SWnim sebelumnya. "Kau tak akan bisa merasakan apa yang orang lain alami. Kau hanya bisa membayangkan."

Saya mungkin sama dengan yang nonton drama ini, nggak akan ngerti apa yang dialamin Ji An sampai dia bisa berubah pikiran, meninggalkan keluarganya. Jujur, saya belum bisa dapet feel adegan dia menangis setelah mengingat perkataan menohok Ha Jung dan Do Kyung. Kenapa dia malah mau pindah ke keluarganya yang kaya hanya karena itu. Semua yang ia alami begitu beratnyakah sampai dia harus pindah?

Sama saat Seo Young memutuskan mengatakan ia tak punya Ayah. Segitu beratnyakah kehidupannya sampai dia mengatakan hal ini? Benar. Bahkan sampai kapanpun saya tak akan mengerti perasaan mereka jika saya tak mengalaminya sendiri. 

Artikel terkait

Comments