Review Korean Drama My Golden Life Episode 3 (Part 1)

I really like this episode so much. Last week episode just an introduction and i can predict it based on highlight teaser. So i anticipated this week episode so much and yup, i like it. Seems like knetz like it too, little decreased from the previous episode. unfortunately i cant find the translation of kentz responds about this drama. Here how the pace of story goes...fast enough for me.

Mbak Dian made review about previous episode and her comments better than me haha. Look Review My Golden Life Episode 1 & 2 @Kdramastory.

Ah...and someone already made the synopsis too. Go there if you mind my review^^ My review isnt so detail.


Saya memakai Ayah untuk menyebut Tuan Seo dan Ibu untuk istrinya. Sama seperti yang dulu saya gunakan di recap My Daughter Seo Young.

Ibu masih dengan emosi menceritakan bagaimana ia menemukan Ji An ketika Nyonya No menanyakannya. Ibu selalu menginginkan anak perempuan. Makanya ia bahagia sekali bisa punya 2 sekaligus. Tidak hanya 1. Sayang, ia kehilangan salah satu putri kembarnya yang meninggal akibat kecelakaan di pasar. Ada yang nyeletuk di forumsoompi kalau yang kecelakaan itu Ji Soo, sang adik. Jeli banget. Saya aja baru nyadar kalau nggak dibilangin haha.

Di drama SWnim sebelumnya, 49 Days, Ibu justru kehilangan anak sulungnya karena sempat sekilas lepas pengawasan. Clue SWnim ini kecil banget di naskahnya. Cuma 1 detik di layar, tapi kita tahu Ibu sedang bersama Ji An saat Ji Soo tertabrak. Ibu nggak neriakin nama Ji Soo, jadi kalau nggak ada adegan Ibu nyebut Ji An di naskah, kita mungkin hanya nebak dari tinggi badan kedua anak itu. Yang tertabrak lebih kecil dari yang di samping Ibu. So fast...the hint appear in this episode.

Sepulang dari pemakaman putrinya, ibu menemukan Ji An (saya tetap sebut Ji An sebagai anak Ibu yang hilang karena itulah yang dikatakan Ibu) di pinggir jembatan, masih deket tempat pemakaman daerah gunung. Ia begitu ingin membawa Ji An pulang karena Ji An kecil langsung memeluknya. Lagipula ketika mereka bertanya pada polisi tidak ada laporan kehilangan. Dua hari setelah menemukan Ji An ( hari Ji An menghilang dan putri Ibu meninggal adalah hari yang sama), mereka membawanya ke Dubai. Ayah masih kaya waktu itu.

Khas drama soal keluar negeri dan terpisah dari keluarga kandung. Masih inget Endless Love saya TT.TT Dan oke, saya salah kira. Saya pikir anaknya meninggal ketika bayi ala ala drama gitu. Pantes tetangga mereka nggak tahu siapa yang meninggal, Ibu tidak melapor kematian Ji An karena Ji An begitu mirip dengan putrinya. Mirip usia dan tingginya.

Masalah timing juga di sini. Saya nggak tahu kapan Nyonya No siuman dari kecelakaannya di hari-H Ji An. Setelah berapa hari atau di satu hari yang sama? Lalu kapan mereka mengumumkan? Katanya seluruh negeri tahu, tapi kok bisa misstiming sama Ibu? Kalau segitu besarnya beritanya harusnya Ibu tahu. Di flashback ada berita pengumuman setelah 1 minggu tapi itu sudah yang kesekian kali sebab sempat disebutkan, hadiah imbalan bagi yang menemukan sudah naik.

Ibu heran bagaimana Nyonya No tahu. Apalagi Nyonya No berkata Ji An diculik. Jadi penculik tahu dong siapa yang mengambil Ji An? Lah! Bukannya rencana ambil tebusan bakal gagal kalau Ibu malah nyerahin ke polisi. Hmmmm kok bau bau dendam ya. Bisa jadi penculik memang berniat memisahkan Ji An dari keluarga Nyonya No. Yang memeras dan mengirim surat kaleng saja bukan penculik itu karena dia mengaku mendengar dari temannya. Aiiiiiiiiih misteri ini nambah...saya nggak mau nebak-nebak penculik dari orang-orang terdekat mereka. Semoga emang cuma figuran haha.

Sebelum pulang, ia meminta Ibu mengatakannya pada Ji An. Ia ingin putrinya kembali. Ibu terduduk lagi. Berasa hilang tenaganya. Hee Ja yang numpang kamar mandi pun mendengar semuanya. Tapi Ibu tak bisa bercerita banyak, segera menuju kamarnya. Ia bahkan tak ingat Hee Ja ada di rumahnya.

Ayah risau dengan keadaan Ji An, ia meminjam telepon rekannya untuk menelepon Ji Soo. Dan mainlah humor SWnim di sini. Ceritanya tuh Ji Soo lagi kerja nungguin telepon Woo Hyuk. Eh ada telepon masuk. Penonton mah udah tahu itu dari Ayah. Tapi Ji Soo yang mengira itu telepon Woo Hyuk malah pasang nada manis banget sampe Ayah ngira dia salah sambung. LOL. “Ini ponsel Ji Soo, kan?” tanyanya. Saya suka banget akting Eun Soo waktu tahu itu malah dari ayahnya :)

Ayah menanyakan soal tempat Ji An bekerja. Sepertinya dia ingin pergi melihatnya. Sebelum ia menelepon sebenarnya, Ayah sudah melihat rekeningnya. Saya nggak tahu Ayah mau ngapain dengan uangnya. Kirain Cuma mikirin biaya transport. Rupanya lebih dari itu saudara-saudara...

Ji Soo menghela nafas kecewa. Telepon yang ditunggunya tak kunjung tiba. Bosnya, Nam Goo sajangnim bilang akhirnya ke Ji Soo kalau pria bersepeda itu nggak bakal nelpon. Woah. Dia sampai hafal kebiasaannya Ji Soo yang ngikutin Woo Hyuk dengan sepeda. Sebab Woo Hyuk nggak suka sama Ji Soo. Makjleb. Tapi dasarnya Ji Soo anaknya positif. Meski dibilangin kalau cowok itu nggak bakal ragu buat nelpon orang yang disukainya, Ji Soo tetap pada pemikirannya bahwa mungkin Woo Hyuk hanya sibuk atau malu saja. "Dia tidak akan menelponmu. Jangan menunggu teleponnya," nasihat sajangnim.

Bentar...bentar...Ji Soo bilang kalau bukan karena Ji An, dia pasti sudah nyatain perasannya. Haduuuuuu belum belum udah kecium konfliknya. Ah, ngeri.

Btw SWnim main sambung-sambungan adegan. Saya dibikin enak ceritanya hehe. Penonton lalu dialihkan ke scene Woo Hyuk. Dan tebak, kakaknya Hyuk juga cerita hal yang sama!!! Katanya cewek yang kemarin ngasih nomer hpnya itu lagi nungguin telepon Woo Hyuk. Berkeliaran di sektiar kafe. Petunjuk di mana-mana, pasangan sajangnim toko roti dan sajangnim kafe sama-sama ngomongin Ji Soo dan Hyuk. Kapan ya mereka ketmuan. Minggu depan?

Ugh, bener kata Kang sajangnim, Hyuk langung ngehapus nomernya Ji Soo haha. Hyuk beralasan dia nggak suka cewek yang nggak terus terang sampai menguntit dia berbulan-bulan. 

Noonim menanyakan cinta pertama Woo Hyuk. Ia tahu itu Ji An. Woo Hyuk pun menelepon Ji An yang ternyata hpnya sudah dinyalakan. Ia sangat senang.

Namun telepon Ji An lagi sibuk ditelpon Ayah. Ayah bohong lagi, mengabarkan dia lagi di deket tempat kerja Ji An. Dia mau bertemu Ji An mumpung di sana. Makan malam.

Ji An belum sempat menjawab sebab bosnya udah keburu menyembur. Ada pesanan banyak dan Ji An nelpon? Harusnya Ji An cepet dong. Dan apa lagi? Ji An kok nggorengnya begitu...begini lho harusnya...

Hhhhhh Nyonya No yang melihatnya ngerasa nyelekit banget. Di rumah, dia disapa Seo Hyun yang mau berangkat. Katanya sih ngampus, tapi penonton dikasih tahu kalau dia punya rencana liburan hari itu. Ugh. Sebenernya saya nggak nyadar hal ini. Tapi gara-gara nonton episode 4 jadi tahulah Seo Hyun gimana. Eh, dia bisa konek sama perasaan ibunya. Nyonya No nggak biasanya dianter Manager Min. Ia memilih di rumah saja malam ini. Feelingnya buruk.

Si anak cowok bungsu lagi kerja seperti biasa di toko sepatu saat matanya tertambat pada sepatu cantik. Ia teringat sepatu Ji An yang sudah lama. Ji Ho mau beli yang keluaran baru itu. Cantik emang. Tapi kata seniornya itu nggak bisa dibeli pakai diskon pegawai. Padahal dia cerita mau beli buat kakaknya. Walhasil senior menawari sepatu lain deh yang bisa dibeli dengan diskonnya. Apakah Ji Ho membelinya? Yang ini udah pasti next episode ya^^ Ngeliatnya di sini senyum sih, tapi nonton aja episode 4nya LOL.

Oh ya, sempet dicurigai sepatunya buat pacar, Ji Ho jelas bantah. Dia nggak akan pacaran sampai tujuannya terapai. Awwww, apa itu? Masuk univ? Kerja tetap? Heran, ini anak-anak keluarga Seo sampai strict masalah hubungan asmara. Ji An juga di episode sebelumnya bilang cinta itu cuma buat orang yang beruang. Dan Ji Tae mau dengan hubungan tanpa nikah. Heol.

Nyonya No meminta Manager Min mengosongkan kamar Eun Sook yang dulu. Ia juga memninta ditelponkan suaminya agar cepat pulang karena ada hal penting yang mau dibicarakan. Ditelpon lewat perantara begitu Tuan Choi jelas kesal. Apalagi itu dia habis selesai dengan acara peringatan kematian pamannya. Kalau mau bicara, bicara saja langsung. Dia akan pulang besok karena ada acara penting. Alasan aja... Padahal nggak. Ngajarin istri ceritanya.

Paman? Saya punya firasat paman ini yang membesarkan Tuan Choi sampai dia begitu hormat padanya. Tuan Choi yatim piatu?

Crying scene. Just prepare your tissue if you are going to watch this scene.

Ayah sudah nunggu di depan restoran, tempat biasa ia makan dulu waktu masih kaya. Daging sapinya enak. Namun Ji An tahu ayahnya nggak punya uang. Ia mengajak ke tempat lain. Kedai pinggir jalan lagi. Baginya semua makanan itu sama. Hanya 10 detik pula di dalam mulut. Jadi buat apa makan mahal-mahal hanya untuk 10 detik? Udah ya, saya nggak bisa komen apa-apa kalau Ayah sama anak ini yang ngobrol.

Ayah miris banget. Ayah mau nyuapin Ji Soo tapi Ji Soo maunya makan sendiri. Dia sebenernya nggak enak sama Ayah. Huhuuuu. Ayah ngeliatnya tambah miris. Ji Soo pun pasang wajah senang. Enaknya! Ayah menghibur Ji An, selalu ada waktu untuk semuanya. Maka anggap saja ini bukan waktu Ji An. Ia  lalu mengeluarkan uang untuk Ji An. Disuruhnya berlibur menyegarkan pikiran. Ji An mengatakan uangnya diberikan eomma saja. Ia sudah terlalu tua menerima uang Ayah.

Ayah nggak suka, masa ia nggak boleh ngasih anaknya kalau gitu? Ji An manis sekali membalas, dia hanya akan menerima niatnya appa😭

Appa keceplosan langsung balik Daejeon malam ini jadi dia nggak sempat ngasih eomma. Ji An akhirnya tahu Ayah bela-belain ke sini karena dirinya. Setelah mendengar Ji An untuk kesekian kalinya nggak diterima sebagai pegawai tetap. Ji An nggak mau Ayah sampai membuang uang untuk tiket. Ayah sedih, begitu tak mampunya dirinya sampai Ji An sangat mencemaskannya. Ayah bertanya sejak akapan Ji An bicara formal padanya. Aih...kerasa banget ya Yah kalau agak jauh? Ji An cuma ngerasa udah gede aja kok, nggak usah mikir macem-macem 😭😭😭

Ji An nganter Ayah pulang. Dorong-dorongan siapa dulu yang pulang. Sama-sama nggak tegaaaaaaa. Ayah nyerah, turun duluan ke stasiun subway. Ji An yang melihat Ayah menghilang dari pandangan, berjalan pulang. Namun rupanya Ayah berbalik melihatnya pulang. Hadu kurang romantis apa?!

Ayah mengirim hati untuk Ji An yang menoleh. Ji An tersenyum menerimanya. 

Sayangnya, di tengah jalan ia malah mendapati adiknya yang mau curhat soal Mr. Sun. Ji An tak bisa memendung keletihannya. Ia luapkan kesal. Akhirnya. Semoga Ji Soo bisa selalu mengerti kapan waktu yang tepat. Tapi emang seletih apapun Ji An, biasanya dia masih bisa ngeladeni. 

Ji Soo keingetan percakapanya sama Do Kyung. Beneran! Dapet banget chemistrynya Do Kyung sama Ji An sebagai kakak adek. Eh, Ji Soo cute sih, mau siapapun kakaknya kayaknya cocok-cocok aja. Saya paling suka waktu Ji Soo bingung, apa yang akan kita lakukan?

Haha. Do Kyung shocked. Kita??? Ini masalah Ji An. Dia nggak mau Ji An tahu dirinya nyamperin Do Kyung seperti ini. Do Kyung menenangkan, biar dia sendiri yang akan mengatasinya. 

Di rumah, Ibu nggak enak juga sama Ji An. Ibu menyuruh Ji An mengundurkan diri dari pekerjaannya, melihat anaknya begitu keras dan kelelahan. Ibu bahkan memberinya uang sangu. Ji An menegaskan, ia bahkan belum ngelunasin pinjaman untuk kuliahnya (katanya anak-anak di Korea minjem uang buat kuliah kebanyakan. Ada yang cerita hal ini ke Si Wan di Healing Camp. Saya terharu kalau denger cerita mereka. Sampai banting tulang sana sini buat kuliah). Jadi tidak perlu dan maaf Ji An nggak bisa bayar uang hidupnya dulu. Bener-bener ya, anak-anak ini masih mikirin bayar uang hidup di rumah sendiri?

Bisa dilihat...Ibu seperti ingin melakukan itu untuk terakhir kali. *cryagain

Sementara orang kaya yang dihutangi Ji An sudah mendapatkan mobil barunya. Ia senang sekali. I see Seo-byeon is back. That happiness. SWnim selalu bikin karakter lead malenya so charming. Do Kyung sekali lagi memperlihatkan kebaikannya. Ia ingin membatalkan hutan Ji An secara langsung tatap muka. Nggak dari telepon.

Ji An dipecat atas suruhan Nyonya No. Nyonya No memberi imbalan bos kedai ayam goreng pula. Tapi lihat Ji An, ia mengembalikan separuh uang pesangon (yang sebenarnya dari ibunya juga) yang menurutnya terlalu banyak. Ada yang percaya ada orang kayak Ji An? Ia langsung meamar untuk pekerjaan paruh waktu lain. 

Ji An ini hemat banget. Dia suka satu makanan tapi dia memilih yang paling murah. Nggak jadi makan pula karena dia baru inget hutangnya sama Do Kyung setelah dia ditelpon Ha Jung buat ganti rugi. Ji An memukul-mukul kepalanya. Ia bergegas ke tempat Ji Tae bekerja meminta tolong dipinjami uang. Sayang, yang pinjaman kemarin saja sudah maksimal banget sejak biaya sewa mereka naik. Trus gimana ya? Ji Tae tampak mencemaskan adiknya. 

Comments