Review Korean Drama My Golden Life Episode 8 (Part 2)

There is a bomb here. Big bomb that's not what I expected before. Too much to handle actually. Fortunately, the next episode seems lighter for me to take a breath :P Or yeah, we can get out of this drama anytime we want... This season has so many heavy drama tho LOL.


Soo Ah sedang kencan buta bersama seorang akuntan di kafe yang sama tempatnya dulu kencan buta juga dengan Ji Tae. Hongdae. Kebetulan Ji Tae juga sedang di sana mengerjakan tugasnya menarik pelanggan dengan membagikan brosur. Mata Ji Tae lalu tertambat pada sosok Soo Ah yang ada di beranda kafe. This is the start of everything.


Ji Tae masih ada di luar saat Soo Ah selesai makan malam bersama sang pria. Ia ingin bicara dengan Soo Ah berdua dan begitulah ia mengusir halus pasangan Soo Ah. Perdebatan mereka jelas lebih parah daripada perdebatan Do Kyung dan Ji An. Semua yang tahu kisah mereka berdua bisa menebak ini soal pernikahan. Soo Ah setuju kencan buta karena ia ingin menikah sementara Ji Tae tidak. Soo Ah mungkin tidak mengatakannya, tapi itulah wanita. Kadang apa yang mereka ucapkan tak sesuai dengan isi hatinya. 

Soo Ah mengungkit kembali soal Ji Tae yang biasa saja mendengarnya ingin pergi ke Kanada, ke tempat ibunya berada untuk dijodohkan. Ji Tae beralasan itu karena ia percaya Soo Ah tak akan meninggalkannya. Ji Tae tahu Soo Ah tidak suka tinggal di luar negeri sehingga ia memilih tak ikut saat orang tuanya pindah. Namun Soo Ah tetap mengartikan Ji Tae tak peduli dengannya yang kencan buta atau tidak, lalu kenapa sekarang marah.  

Ayah rupanya tak tertarik dengan seminar bisnis yang menawarkan keuntungan 100% hanya dalam 10 minggu. Ia sudah cukup pengalaman soal itu. Di jalan pulang ia melihat pertengkaran Ji An dan Soo Ah. Untungnya Ayah tak melihat wajah Ji Tae. Tapi orang-orang yang berkerumun dan merekam pertengkaran mereka membuat saya curiga suatu saat akan terungkap untuk Ayah.

Kembali ke Ji Tae-Soo Ah. Ji Tae hanya ingin mendengar Soo Ah yang memutuskannya. Bilang saja tak mencintainya. Sebagai balasan, Soo Ah hanya berkata soal kondisi keluarga Ji Tae yang bahkan tak sanggup membeli sebuah kamar (apartemen), tapi Ji Tae berusaha sekali untuk jadi anak baik (dan tak menikah). Soo Ah tak suka. Ia melenggang pergi.

Ji Tae yang sontak menahannya, tak sengaja menarik kuat baju Soo Ah hingga robek. Soo Ah menangis, memukul-mukul Ji Tae yang kejam sekali menyuruhnya mengatakan itu. Ji Tae akhirnya menyuruh Soo Ah pergi. Ia juga menangis. Sadar dirinya tak bisa diharapkan. Ia tak akan pernah menikah. Ia tak ingin mewariskan kemiskinannya untuk anak-anaknya nanti, jadi ia menyuruh Soo Ah pergi saja. 

Ayah mendengar ini. Ia tak kuat dan berlalu. Ia sempat terdiam di depan Seok Doo selama 1 jam sebelum bercerita mengapa ia mau memulai lagi bisnisnya. Dulu dia takut jika ia akan kehilangan lagi. Sekarang ia tak mau jadi Ayah yang tak berguna. Ah...kenapa ia selalu berlari dan berlari, tak pernah istirahat sejak menikah? Ayah 😭😭😭

Di tempat lain Ji Tae tak lupa menyampirkan jas kerjanya untuk menutupi bahu Soo Ah yang terbuka., mengambilkan tas Soo Ah yang terlepas. Ji Tae berjalan pergi mendahului Soo Ah. Keduanya sudah kehilangan tenaga untuk berjalan sebenarnya, namun mereka sudah sangat menarik perhatian. OST sedihnya pas banget buat pasangan ini. Buat saya nggak pas untuk adegan Ji An hehe. Btw saya belum terbiasa sama suara Ji Tae yang berubah saat marah. Pakai suara dalam.  

Ji Ho membuat mie kimchi tauge yang disukai Ji Soo. Ji Ho manis banget dan berniat membuat lagi saja. Ia lalu mengungkit Ji An yang sepertinya ganti nomor dan tak memberitahu mereka. Ji Soo tertegun. Ia nggak nafsu makan seketika. 

Malam itu, Nyonya No ingin tidur dengan Ji An. Ji An disuruh ganti piyama. Ia tidak ingin Ji An memakai kaos karena kenyamanannya. Mereka tetap harus menjaga formalitas katanya. Yaelah.

Ji Soo juga tidur bersama Ibu. Ia bilang ia tak pernah bahagia selama hidupnya tapi ia tidak bahagia sekarang karena Ji An pergi dari mereka. Karena itulah, ia meminta Ibu tidur bersamanya. Ckckck mereka kok kebalik gini. Tukeran Ibu. Eh, Tuan Choi aja nggak seranjang sama istrinya.

Ji An terbangun tanpa Nyonya No di sampingnya. Selesai mandi, ia bergegas menyapa Do Kyung yang sudah ada di depan pintu sampai menjatuhkan cuciannya. Ternyata di rumah itu, semua dicuci pembantu.   

Pelajaran Ji An dimulai. Ia diminta duduk tegak dengan bahu tegap. Ia tidak perlu berdiri dan membungkuk menyambut gurunya. Hanya perlu mengangguk. Dan tidak perlu juga menanyakan pendapat. Ajak saja orang itu untuk melakukan hal yang dimaksud.

Ibu pulang dari cabang bisnis Haesung yang ditawarkan padanya. Ji Soo menawarinya masakan. Ibu jadi marah padanya yang bersikap seperti orang lain. Sejak kapan Ji Soo memasak untuknya? Ia sudah bilang tak ingin makan. 

Ji Soo menjawabnya dengan berkaca-kaca. Tentu saja. Ia sekarang anak perempuan ibu satu-satunya. Sudah tugasnya memasakkan Ibu. Ibu teringat Ayah yang menuduhnya mencuri impian Ji Soo karena membairkan Ji An yang justru pergi ke keluarga Choi. Ibu lantas dengan lembut berkata, ia sungguh tak lapar sekarang. Ji Soo-ya...uljima...

Di pagi yang baru, Ji Soo dibelikan Ibu roti. Tak seperti biasanya Ibu melarang mereka makan roti. Ibu tahu Ji Soo suka. Kelihatan Ibu merasa bersalah. Ia bergumam kenapa Ji Soo manis sekali sampai membawa roti itu pergi bersamanya. Eits. Ji Soo kelupaan ponsel. Ia kembali saat Ibu menangis meminta maaf di depan foto Ji Soo kecil. Choi Eun Sook yang hilang. 

Belum sempat Ji Soo keluar lagi, Hee Ja datang masuk dan membawa foto Ji Soo dan Ji An kembar sebelum Ji Soo meninggal. Ibu kaget Hee Ja punya sebab mereka kehilangan album foto saat pergi ke Dubai dulu. 

Hee Ja lantas nyeletuk soal anak kembar Ibu yang kidal. Ia lupa siapa tapi ia ingat salah satu putrinya memegang stetoskop mainan dengan tangan kiri. Ibu panik dan meminta Hee Ja keluar, beralasan ia mau pergi. Ketika ia masuk kembali ke dalam rumah, Ji Soo sudah memegang foto dirinya dan menanyakan kepada Ibu mengapa menangisi fotonya. Ji Soo sebelumnya mengira Ibu menangisi Ji An yang pergi, jadi bertanya demikian. 


Apakah Ibu akan ceritta yang sebenarnya? Saya tergelitik sama pertanyaan mbak Dian lagi setelah melihat previewnya. Ji Soo katanya bahagia memeluk Ayah dari belakang, tapi kenapa dia menangis?

Dia tampak senang sih saat bertemu Hyuk lagi. Akankah dia menyatakan perasaannya nanti?

Sementara ketika Ji An sudah mau menganggap Do Kyung, oppanya. Do Kyung seperti belum melunak. Ia makin mengasihani Ji An yang tak bisa melupakan keluarga lamanya sampai mengatakan dirinya masihlah Ji An di hadapan ibunya. O.ow.

Btw, di part ini saya suka banget Ji Tae yang diliatin pinter narik pelanggan, pekerja keras, dan penyayang sama Soo Ah. Brosur untuk pelanggannya cepet habis dan dia tetep ngambilin tas Soo Ah meski mereka sudah putus. Saya cuma nggak suka sisi lain dirinya yang terlalu keras di depan umum.

Selain itu sih, saya suka Soo Ah yang diliatin cantik banget di sini. Aalagi dengan rambut sebahu itu. Mirip Ryu Hwa Young^^ Masalah keduanya cuma komunikasi untuk menemukan solusi terbaik. jadi mungkin bisa terselesaikan dalam beberapa episode. Drama ini punya banyak karakter buat diceritain soalnya 😁

Termasuk Seo Hyun. Anak ini kaku banget. Bahkan sama kakaknya sendiri. Ia nurunin sifat ibunya yang ketat. Percaya kalau masa depannya sudah diatur dan dia nggak punya pilihan selain mematuhinya. Apakah benar demikian?

Artikel terkait

Comments