Review Korean Drama My Golden Life Episode 9 (Part 2)

This drama still interesting despite of slower speed this week. This part shows how difficult Ji An's life in her new home. Not as warm as her previous home with her sister, Ji Soo. Ji Soo feels the same. She needs Ji An too^^ Those two sisters seems cant be separable from everything. #eh

NB: Sinopsis ini nggak runut berdasarkan scene.  



Di episode ini diperlihatkan bagaimana Tuan Choi marah karena tidak ada satupun karyawan magang yang diangkat jadi pegawai tetap. Tidak sesuai lowongan kerja yang mereka umumkan. Ia kesal, perusahaan seperti tak menepati janji. Bagaimana tampang mereka nantinya di depan publik? Tuan Choi ingin keadaan ini diperbaiki. Pekerjakan yang memang berkompeten dari pegawai magang. Bukannya memilih dari kalangan atas yang mendaftar. 

Beralih ke Ji Soo yang kasihan juga sebenernya. Ia jadi enggan sekarang mau ke kafenya Noona buat nganterin roti. Masih ada Hyuk di sana dan ia kaku banget menghindar dari Hyuk. Sampai diliaitn Hyuk dan noona berjalan seperti robot. Tangan kiri dan kaki kiri bersamaan geraknya. CUTE! Tapi malu banget hahahaha. Ji Soo membatin, Mr. Sunnya tidak seperti dulu. 

Lalu kita diceritakan bagaimana Ji Soo masih menjadi perawat gigi dan Hyuk juga lagi di klinik tempatnya bekerja. Lucu bagian ini. Ji Soo dan Hyuk sama-sama mengingat masa lalu. Tapi Ji Soo mengingat Hyuk sebagai orang yang beda, sedangkan Hyuk mengingat Ji Soo sebagai orang yang sama. Hihihi mereka klik nggak sih?

Ji Soo ini kayaknya orang yang gampang merasa mual dengan bau mulut orang. Makanya dia maudipekerjakan di meja admin, front office. Sayangnya ada suatu hari di mana ia harus membantu Dokter. Ia pun berhadapan dengan salah satu pasien dan pasien ini ngeh dengan Ji Soo yang buatnya kurang ajar. Mual di dekat pasiennya? Ji Soo sudah minta maaf, tapi sang pasien nggak terima dan mau memukulnya. Begitulah Hyuk datang dan mencegah tangan pasien melayang. Ia meminta pasien tidak menggunakan kekerasan. Ji Soo terpana.

Ia sudah mau memberi Hyuk roti pilihannya yang terbaik tapi hujan turun dan ia tak bawa payung. Hyuk yang melihatnya, berhenti memberikan payungnya dan membuat Ji Soo terpana lagi LOL. Waktu berhenti. Ji Soo diliatin cantik banget. Detail tangannya yang berusaha menghindar pegangan tangan Hyuk itu. Haha saya suka. Lentik. 

Hyuk mengaku nggak suka tipe cewek seperti Ji Soo. Dia nggak menyapa dengan luwes karena malu. Mual di deket pasien sendiri dan habis itu malah makan roti seperti hantu yang mati kelaparan. Lengkap dengan krim yang menempel di sudut bibitnya. Ngakak denger deskripsinya Hyuk. Mana bisa dia menyukai Ji Soo? Bahkan kalau dia cowok juga Hyuk nggak bakal suka. Rakus, nggak profesional...menyedihkan karena nggak punya tujuan hidup. Kerja di klinik, retsoran, salon, dan toko roti. Bentar, Hyuk tahu semuanya? Selama ini distalking Ji Soo di tempat kerja yang lain juga?

Ji An makan malam dengan Do Kyung. Maksudnya sih mau melatih pidato di depan Paman dan bibinya agar tidak tegang dan bikin kesalahan, tapi karena ga diliatin latihan itu, saya pikir maksud Nyonya No di sini cuma nyuruh Do Kyung membiasakan Ji An untuk berbicara di hadapan rekan bisnis mereka. Do Kyung memulai dengan menceritakan keluarga mereka. Bagaimana kakeknya hanya punya puteri dan tidak berkeinginan mewariskannya untuk puter-puteri tersebut. Walhasil Kakek memilihkan calon suami untuk keduanya dan itu adalah ayah dan juga paman mereka. 

Ji An tampak penasaran dan dan tanpa sadar mencondongkan badannya ke arah Do Kyung. Dan begitulah Do Kyung berakhir mengajari Ji An. Soal duduk tegap, tersenyum, makan tanpa terdistraksi omongan lawan bicaranya, termasuk nanti bila ia berbicara dengan kakek, paman dan bibinya. Sebab makan hanya salah satu properti manis yang mendampingi obrolan akrab, terutama bisnis. Ji An juga tak diperkenankan makan dalam porsi besar. Potong makanan kecil-kecil dan minum anggur seperlunya. Tak perlu mengangkat gelasnya jika pelayan menuangkan minum. Menunjukkan kepercayaan pada yang melayaninya.

Selesai Do Kyung mengajari banyak hal, ia masih saja menceramahi Ji An soal ini itu di mobil. Padahal Ji An hanya mencari air minum untuk perutnya yang mungkin mengalami masalah pencernaan setelah makan steak tadi. Ia melongok ke semua arah dalam mobil Do Kyung. Do Kyung jadi merasa tidak nyaman. Isi mobil adalah privasi, ia mengingatkan Ji An untuk bertanya saja. Apa susahnya. Sementara Ji An sebaliknya, segitu tidak nyamankah keduanya? Bukankah merekaa keluarga. Bahkan keluarga saja tidak boleh luwes begini? Buat Do Kyung, iya. Karena semua selain dirinya sendiri adalah orang asing. Siapapun itu. Ckck, saya beneran nggak paham yang seperti ini memang beneran ada ya?

Ji An berakhir muntah-muntah di rumah dan Do Kyung tahu itu. Namun meski khawatir, ia yakin Ji An bisa bertahan. Kan tinggal memanggil Manager Min untuk minta obat... 

Nyatanya tak seperti di bayangan Do Kyung. Ji An yang hanya ditemani boneka kayu sebagai teman bicara, bercerita ke boneka Ji Soo kalau ia sakit dan takut bertanya di mana obatnya. Jika ia bilang ia tak bisa mencerna makanannya karena banyak berbuat salah di depan kakaknya, ia pikir akan dimarahi. Seo Hyun juga pasti nggak mengizinkannya masuk kamar, sementara Ji Soo kalaupun ada di sana mungkin akan langsung meraih jarinya untuk ditusuk jarum. Seperti biasa jika mereka memiliki masalah pencernaan. Dengan begitu sendawa bisa keluar dan nyaman sekali rasanya. Ji An sedih. Ia rindu Ji Soo karena merasa kesepian di sana. Ji An  memeluk boneka Ji Soo dengan erat sampai tertidur. Detail banget boneka ini sampai ada roti di mulut boneka Ji Soo >.< Boneka Ibu bawa makanan, boneka Ji Ho bawa buku. Gubrak. Andai mereka tahu. 

Oh ya, saya belum cerita di part sebelumnya tentang Ji An yang ngerasa Do Kyung dan Seo Hyun kejam padanya. Kakak-adek itu lagi 'kencan', menikmati musik opera di lantai 2. Tentu Ji An tak mengerti apa-apa mengenai judul lagu atau rumah opera yang mereka sebut. Ia berusaha membaur, berkata menyukai lagunya, tapi karena Do Kyung merasa lagunya begitu lama, ia memilih ke kamar dulu membiarkan Ji An menikmatinya. Seo Hyun pun pamit ke kamar pula beralasan punya PR. Maklum kenapa Ji An merasa terasing di rumah sendiri.  

Esoknya Do Kyung heran karena Ji An makan seperti biasa. Mungkin ia pikir Ji An akan makan bubur kalau sakit tadi malam. Ia merasa prihatin Ji An tak mengatakan apapun pada keluarganya. Tuan Choi juga cemas tak ada jadwal makan siang di jadwal Ji An hari ini. Full pelajaran. Nyonya No beralasan Ji An harus banyak belajar sampai saatnya tiba. Ia cukup waktu makan kok nanti di perusahaan dengan membawa sandwich sebagai bekal. Tuan Choi menyemangati Ji An.

Dan Ji An menyemangati Ji Soo haha. Jadi si kakak ini menyempatkan waktu menelepon Ji Soo ketika sore. Panggilan eonni-ah Ji Soo sudah cukup memberi tenaga Ji An untuk menghempaskan tugas belajarnya. Ia bergegas ke tempat Ji Soo berada, minimarket tempat kesukaannya dulu beli bir kaleng. Ji Soo emang keinget kakaknya sehingga berakhir minum di sana. 

Sudah bisa ditebak, Ji Soo cuma kena efek patah hati. Tapi sakit sekali sampai menenggak berkaleng-kaleng bir yang bahkan tak pernah bisa ia minum setengahnya. Lihat saja betapa mabuknya Ji Soo sampai memeluk kakaknya manja. Singkat cerita Ji An jadi tahu dari Ji Soo kalau Mr. Sun yang selama ini adiknya ikuti itu ternyata menyukai wanita lain. Ji An sayang banget sama Ji Soo. Ia menyuruh Ji Soo melupakan pria yang menolaknya dan sampai membawa Ji Soo pulang juga. Ji Soonya yang malang...

Dan Ji An yang nggak kalah malang. Malam itu meski ia pulang ke rumah, ia tak bisa menemui ayahnya dan malah bersembunyi darinya. Sampai di rumah keluarga Choi pun ia mendapati barang-barangnya sudah dibuang. Boneka kayunya yang berharga raib tanpa seizinnya. 

Ini bentuk kemarahan Nyonya No. Nyonya No sungguh tidak suka dengan sikap Ji An yang masih menganggap dirinya orang biasa seperti dulu. Ji An mengaku memang susah menjadi Eun Seok seberapa keras ia mencoba. Nyonya No jadi kesal. Bukankah Ji An sendiri yang memilih kembali? Harusnya Ji An tahu bersama pilihan yang ia putuskan ada tanggung jawab yang harus ia tunaikan. Jika Ji An begini dan menyebabkan keluarga Choi jadi bahan omongan, sebaiknya Ji An tak kembali. 

Ji An sangat sedih tak mendapati apapun sebagai pelampiasan perasaannya. Dia mencari kaleng bir di kulkas dan rak manapun tapi tak menemukannya. Ia berakhir mengendap keluar dan memanjati dinding pagar. Tapi tak berhasil karena suara Do Kyung yang memanggilnya, mengagetkannya.

Ji An terjatuh, ditangkap Do Kyung. 


Oke saya akui episode ini emang padat haha. Udah dua part tapi tetep panjang aja. 

Ji Soo anaknya polos bener dah. Itu sama Hyuk cuma sekali itu aja kan ketemu tapi udah suka banget. Wajar kalau kemudian cepet pula sakit hati. Manner atau tata krama...sikap baik...dilakukan Hyuk untuk semua orang. Bukan spesial Ji Soo aja. Haha. Saya nggak bayangin anak ini anak keluarga Choi. Beda pola asuh dan lingkungan, beda kepribadian yang terbentuk. Kalau dia dibesarkan ala keluarga Choi, pasti jadinya ya Seo Hyun versi 2. Ji Soo sampai menangis di jalan sendiri. Pura-pura buang muka ke Hyuk. Lucu aja gitu kesannya. Gimana dia bisa jadi dewasa ya?

Di sini saya suka banget sama make up Hye Sun (Ji An). Super natural. Kesannya kayak pucet sih, tapi jadi lebih kelihatan cantiknya. Do Kyung udah mulai ngertiin Ji An juga. Sama kayak saya. 

Akhirnya diliatin sisi lemahnya Ji An dalam rumah itu. Lebih dalem, lebih dapet. Drama ini ternyata bisa merubah perspektif awal untuk satu karakter berubah di tiap episodenya. Dulu sempet ill feel sama Tuan Choi, Ji Tae, Ji An, Ji Soo...makin ke sini jadi simpatik. Sempet suka sama Ibu dan Ji Ho jadinya biasa aja dan justru gemes. Kalau sekarang nggak suka sama Seo Hyun dan Nyonya No, apa bisa nanti berubah? We will see.

Episode berikutnya masih manis dengan Do Kyung dan Ji An yang bertambah dekat, Ji Soo yang cuek, dan Ketua Choi yang menyapa cucunya yang sempat hilang. Ada pula kisah baru dari Ji Ho dan Seo Hyun yang mengejutkan(?).

Artikel terkait

Comments