Review Korean Drama My Golden Life Episode 11 (Part 1)

Last week is Chuseok's holiday. My Golden Life celebrated Chuseok (thanksgiving day) too. First time for Ji An as new member of No's family to spend the day in her new home and after that something strange just hit her head. Something that maybe you all cant believe will happen this fast. No wonder the rating went up. Around 27% this Saturday. 

Sebelumnya: My Golden Life Episode 10 Part 1 dan Part 2 juga preview episode 11

Tak disangka Ji An masuk kembali ke kantornya yang dulu dengan sambutan hangat (meski mantan rekannya sempat terkejut dulu termasuk si Bos). Hanya Ha Jung yang penasaran dan menanyainya langsung. Ha Jung sangat heran dengan fashion Ji An yang berubah. Ia memakai barang-barang branded yang hanya ia yang tahu di ruangan itu. Jawaban Ji An bahkan tak memuaskan Ha Jung. Tapi Ha Jung yakin, Ji An pasti ketiban durian runtuh, semacam lotere atau apapun itu yang membuatnya masuk karena koneksi. Ji An sebenarnya terlihat nggak enak juga karena dia sama dengan Ha Jung. Koneksi. Ha Jung benar tentangnya. 


Pembahasan mereka lalu berlanjut ke project "Festival Lima Indera", proposal Ji An yang mau dihandle Ha Jung karena Ji An dulu nggak keterima pegawai tetap. Proposal itu terpilih (oleh Do Kyung sendiri, kakak Ji An) sebagai acara perayaan ultah ke-40 perusahaan Haesung dan akan dikembalikan lagi ke Ji An untuk dikerjakan. Ha Jung jelas nggak terima. Dia sudah separuh jalan menggarapnya. Ia juga tak mau bekerja sama menyelesaikannya dengan Ji An. Jadi salah satu senior wanita kemudian mengusulkan mereka untuk mengerjakan detail acaranya dan biar yang lain memutuskan. Dan begitulah bagaimana Ji An ditunjuk kembali memegang usulan acaranya. Lebih realistis dan tidak terlalu mahal seperti punya Ha Jung. 

Lagi-lagi hari itu roti lebih cepat laris. Bos Kang pun mengizinkan Ji Soo pulang cepat. Ia kan juga harus menyiapkan perayaan Chuseok. Ji Soo lalu jadi ingin tahu tentang rencana Bos Kang. Apa liburan ini mau mengunjungi keluarganya? Bos Kang sampai tersedak mendengarnya. Ji Soo sendiri merasa prihatin karena bosnya selalu makan mie, walau setiap hari menyediakan roti untuk pelangganya. Ji Soo bilang kalau Bos Kang mau mengangkatnya sebagai muridnya, ia akan melayani Bos Kang sebagai gurunya dan memasakkan makanan 3 kali sehari sebagai bentuk perhatiannya.  Masakan Korea, Cina, atau Jepang. Kalau saya pasti mau. Ji Soo sudah belajar ketiga msakan itu lho. Harusnya enak dong. Tapi percuma. Tetep nggak mempan. Bos Kang tidak ingin meninggalkan jejak saat ia pergi nanti. Ji Soo mah ngiranya pergi biasa, seperti nutup toko. Padahal senangkep saya, pergi=mati. So, Bos Kang nggak mau ninggalin jejak meski hanya roti? Ckckck. Ia juga tidak ingin menghasilkan uang (jadi kaya mungkin maksudnya) dan takut kalau hidupnya lebih lama. Bos Kang harap Ji Soo mengerti. Ha? Ada ya orang kayak Bos Kang? 

Sebenernya Bos Kang ini so sweet. Dia mau cerita ke Ji Soo. Padahal kalau ia nggak nyaman, bisa aja dia nggak ngomong hal-hal detail seperti itu. Tapi tetep kasihan Ji Soo diginiin. Kata-kata Ji An eonninya bener lagi. Gimana kalau Bos Kang bersikeras nggak mau ngajarin Ji Soo? Untuk apa Ji Soo bekerja di tempat Bos Kang?

Ayah belajar dengan giat, mengumpulkan info usaha ekspor yang mau ia coba bersama Seok Doo. Ketika googling, ia menemukan artikel mengenai kesuksesan lamanya yang memimpin bisnis hingga ke timur tengah di bidang tersebut. Ayah tersenyum dan menjadi lebih percaya diri. Tantang diri sendiri dan jangan menyerah. Selalu ada lebih banyak kesempatan 😊 Special for you from Dad...Ngerti deh kenapa mereka bisa ke Dubai hihihihi.

Tiba hari perayaan Chuseok. Ketua No datang ke rumah Tuan Choi merayakannya, sebab Tuan Choi adalah suami dari putrinya yang tertua. Mereka tidak punya anak laki-laki, jadi meski Tuan Choi juga putra tertua di keluarganya, ia memilih merayakan hari pertama itu bersama keluarga istrinya. Hmmmm Ji An merasa urutannya kebalik. Saya sependapat. Namun bagaimana lagi. Haesung memang punya pengaruh besar. Sudah resiko Ayah jadi menantu keluarga ini. Kalau kata Do Kyung, semua ada harganya. Seperti Ayah yang jadi Direktur Haesung harus selalu menaati peraturan Haesung Group di bawah perintah Ketua No. 

Sementara di rumah keluarga Seo, Ayah justru ingin pergi sendiri ke makam orang tuanya tanpa anak-anaknya. Mereka sengaja tak merayakan di rumah. Ganjil memang, tapi itu pilihan Ayah. Ada yang mau ia bicarakan pada mereka tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Oh ya, di kesempatan itu juga Ji Ho meminta izin tinggal di gosiwon. Dia beralasan kelelahan harus bolak-balik akademi (kursus) dan rumah, apalagi kalau dia sampai kemalaman belajar. 

Ji Tae menasehati adiknya untuk tinggal di rumah saja. Biaya persiapan kuliahnya aja udah tinggi dan tanpa Ji An, Ji Ho malah mau pindah. Ji Ho kekeuh bisa berhemat dengan nggak jalan-jalan dan dikasih makan juga di sana, sayangnya Ibu langsung menolak. Bukannya kemarin Ji Ho sempat kena anemia sampai mimisan? Akan lebih baik lagi kalau Ji Ho makan makanan rumah rumah kan? Toh nilai Ji Ho juga bisa naik. Ji Soo yang mendengar cerita Ibu curiga, jangan-jangan Ji Ho menyodok hidunya sendiri. LOL. Ji Soo paling ngertilah sifat maknaena ini. Kasihan Ji Ho, usahanya malah jadi bumerang, berbalik tak mendukung rencananya. Ia tentu nggak bisa cerita kalau semuanya bohong.   

Namun setelah Ayah kembali dari makam kedua orang tua dan putrinya, Ji Soo yang meninggal dulu, ia langsung memanggil Ji Ho dan memberi izinnya. Asal Ji Ho harus lulus tahun ini. Ayah optimis dia bisa membiayai Ji Ho^^ Ji Ho kesenengan sampai nyanyi nyanyi. Ia nggak akan pernah menyerah kok. Hyun Soo ceria banget di sini beda dibanding di Age of Youth dan saya suka. 

Oh ya, penulis memanfaatkan kesempatan Chuseok untuk mengungkap juga masalah Noona Woo Hee. Di hadapan ibu mereka yang sudah meninggal, Ayah meminta istrinya itu untuk mempertemukan Noona dengan pria baik. Bukannya memberinya pria buruk seperti dulu. Noona menolak permintaan ayahnya. Ia tidak ingin menikah sampai kapanpun. Ia meluapkan emosinya  untuk pergi dari rumah jika kedua Ayah dan adiknya tidak berhenti memaksanya. Hyuk pun memeluk Noona, menenangkannya. Yang penting Noona bahagia deh...

Bos Kang diam-diam melihat kafe Noona, tapi kemudian ia melihat Noona dan keluarga kecilnya masuk ke sana. Bos Kang jadi bingung mengapa Noona masih bersama Hyuk dan ayahnya di hari Chuseok itu. Bukankah suaminya Noona, anak pertama? Bos Kang teringat dulu pernah dilabrak ayah Noona di stand jualan tteokpokkinya agar tak mendekati Noona. Jadi begitu...ayah Hyuk nggak suka kali sama Bos Kang yang belum mumpuni. Kalau ayah Hyuk tahu, apa dia akan mengizinkan mereka berdua bersama kali ini?

Lain Bos Kang, lain Ji Tae. Sama-sama sudah putus, Ji Tae masih nyamperin tempat favoritnya dan Soo Ah dulu waktu Chuseok. Soo Ah juga dengan dandanan barunya. Tapi mereka diselisihi waktu. Ji Tae datang duluan dan pergi, sedangkan Soo Ah ada di belakangnya.  


Maunya bikin spoiler aja, tapi tetep nggak tahan komen sampai sepanjang ini. 

Bagian yang belum saya ceritakan adalah flashback Ayah saat melewati tempat penemuan Eun Sook/Ji Soo2. Ayah teringat dulu selama 2 bulan sepeninggal Ji Soo, Ibu seperti kehilangan nyawa di rumah mertuanya. Makanya Ayah ngaku kangen banget sama Ibu ketika sampai di depan makamnya. 

Kenangan bagaimana Ibu memotong pendek rambut Eun Sook agar mirip dengan putri mereka, JI Soo yang sudah meninggal membuat Ayah kesal sebenarnya. Tapi ibunya malah menyuruh Ayah untuk abai. Bagaimana mereka meninggalkan Eun Sook di sana (Eun Seok kecil waktu ditanya Ibu hanya ingat nama belakanganya, tidak ingat lengkapnya. Mungkin karena dia sering dipanggil, seok-ah?) sementara tidak ada laporan soal kehilangannya. Artinya anak itu tidak ada yang mencari. 

Ibu tidak tega. Eun Seok bahkan selalu tidur di sampingnya dan tak pernah menolak. Dengan dipotong pendek itu, petugas bandara pasti tak kan mengenalinya. Ayah jadi dilema, suatu saat tak terelakkan juga pasti ada yang mencari Eun Seok. Ayah di masa sekarang sungguh mengaku tak bisa berbuat apa-apa walau merasa sangat bersalah. Ia hanya ingin ibu dan ayahnya memohon pada yang-di-atas untuk memberinya waktu lebih.

Bisakah? Semoga iya. Saya nggak mau cerita What Happen with This Family terulang lagi di mana Ayah nggak sempet melihat anak-anaknya berubah. Di poster My Golden Life sendiri cuma Ayah yang pakai baju putih itu bikin parno. Hahahaha meski nggak beralasan sih.  

Tentang Ji Ho, ternyata nilai palsunya cuma ditunjukin ke Ibu ya, buat dapet izin pindah gosiwon. Syukur deh. Kirain dia mau bohong untuk urusan lebih besar. 

Artikel terkait

Comments